Pemadam Korea Selatan memadamkan api dari pria yang melakukan aksi bakar diri di depan Kedubes Jepang di Seoul, 19 Juli 2019. Foto: AFP.
Pemadam Korea Selatan memadamkan api dari pria yang melakukan aksi bakar diri di depan Kedubes Jepang di Seoul, 19 Juli 2019. Foto: AFP.

Perselisihan Korsel-Jepang Meningkat, Picu Aksi Bunuh Diri

Internasional jepang korea selatan
Fajar Nugraha • 19 Juli 2019 19:13
Seoul: Seorang lelaki tua Korea Selatan meninggal pada Jumat setelah membakar dirinya sendiri di luar kedutaan besar Jepang di Seoul. Kejadian berlangsung ketika sengketa diplomatik yang pahit tentang kompensasi kerja paksa pada masa perang berubah menjadi fatal.
 
Perselisihan itu membuat Tokyo membatasi ekspor bahan kimia yang penting bagi industri chip dan smartphone terkemuka di Seoul. Kedua negara terliba dalam perselisihan selama puluhan tahun mengenai kerja paksa Jepang selama Perang Dunia II.
 
Pria berusia 70-an itu menyalakan api di dalam kendaraannya yang diparkir di depan gedung kedutaan dan kemudian meninggal setelah dirawat di rumah sakit, kata pihak berwenang, menambahkan sekitar 20 tabung gas sekali pakai juga ditemukan di mobil ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebuah laporan media lokal mengatakan ayah mertua lelaki itu adalah korban kerja paksa di masa perang Jepang.
 
Bunuh dirinya terjadi ketika Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono memanggil Duta Besar Korea Selatan di Tokyo atas perselisihan yang menurut para analis dapat menghancurkan pasar teknologi global.
 
Taro Kono mendesak Seoul untuk "segera mengambil tindakan korektif" setelah pengadilan tinggi Korea Selatan memerintahkan perusahaan-perusahaan Jepang yang menggunakan kerja paksa untuk memberikan kompensasi kepada para korban.
 
Jepang mengatakan masalah ini diselesaikan berdasarkan perjanjian yang ditandatangani setelah hubungan dengan Korea Selatan dinormalisasi, termasuk paket pinjaman.
 
Kementerian luar negeri juga memperingatkan akan mengambil "langkah-langkah yang diperlukan" yang tidak ditentukan atas masalah ini.
 
Sangat kasar
 
Tokyo telah meminta Korea Selatan untuk mengadakan pertemuan arbitrase pada Kamis mengenai masalah ini.
 
Pada Jumat, Kono memanggil Duta Besar Korea Selatan untuk Jepang dengan mengatakan "sangat disesalkan" bahwa batas waktu telah berlalu.
 
"Kami sangat menuntut pemerintah Korea Selatan untuk segera mengambil tindakan korektif," kata Kono dalam pertemuan yang tampak tegang dengan utusan itu, seperti dikutip AFP, Jumat, 19 Juli 2019.
 
Kono juga mengecam Seoul sebagai "sangat kasar" karena terus menyarankan dana kompensasi bersama bagi para korban kerja paksa yang dibentuk secara sukarela oleh perusahaan-perusahaan Jepang dan Korea Selatan.
 
Awal bulan ini, Jepang mengumumkan pembatasan ekspor beberapa bahan kimia ke Korea Selatan yang merupakan kunci bagi industri chip dan ponsel pintar.
 
Langkah ini memicu kemarahan di Seoul, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran internasional tentang efek pada rantai pasokan teknologi global dan kemungkinan kenaikan harga bagi konsumen.
 
Tokyo mengatakan langkah itu diperlukan karena ‘kehilangan kepercayaan’ dalam hubungan dengan Seoul, tetapi juga menuduh Korea Selatan menangani ekspor bahan-bahan sensitif dari Jepang secara tidak patut.
 
Seoul telah mengancam akan membawa masalah ini ke Organisasi Perdagangan Dunia dan juga mendesak Washington untuk campur tangan.
 
Hubungan antara sekutu Amerika telah lama tegang atas isu-isu terkait dengan pemerintahan kolonial brutal 1910-45 di semenanjung Korea.
 
Tetapi keputusan pengadilan baru-baru ini dan pembatasan ekspor Jepang telah melihat hubungan menurun ke titik terendah dalam beberapa tahun.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif