Profil Dwi Hartanto di halaman web tudelft.nl. (Foto: tudelft.nl)
Profil Dwi Hartanto di halaman web tudelft.nl. (Foto: tudelft.nl)

Dwi Hartanto Berbohong soal Habibie Ingin Bertemu Dirinya

Internasional indonesia-belanda
Sonya Michaella • 09 Oktober 2017 10:15
medcom.id, Jakarta: Dwi Hartanto mengaku berbohong soal kompetensi dan latar belakangnya di bidang teknologi kedirgantaraan atau Aerospace Engineering seperti teknologi roket, satelit dan pesawat tempur.
 
Dwi sempat disebut sebagai putra bangsa yang membawa nama Indonesia di dunia internasional. Bahkan, ia juga disebut bisa menggantikan BJ Habibie.
 
Merujuk pada kasus ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag mencabut penghargaan yang diberikan kepada Dwi Hartanto. Dwi merupakan mahasiwa doktoral dari Indonesia yang menimba ilmu di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pencabutan penghargaan itu berlaku sejak diterbitkan Surat Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/029/KEPPRI/IX/2017 tentang Pencabutan Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Kerajaan Belanda SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang penghargaan kepada Dwi Hartanto. Surat tersebut ditandatangani dan ditetapkan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBPP) I Gusti Agung Wesaka pada 15 September 2017.
 
Surat keputusan tersebut di dalamnya berisi pertimbangan pemberian penghargaan kepada Dwi yang terdapat kekeliruan. Pasalnya, Dwi belakangan diketahui melakukan kebohongan terhadap klaim prestasi yang muncul.
 
"Bahwa untuk itu dipandang perlu mencabut Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto," demikian petikan bunyi pertimbangan dari KBRI Den Haag yang dikutip dari laman resmi KBRI Den Haag, Minggu 8 Oktober 2017.
 
Dwi kemudian memberikan klarifikasi melalui sebuah pernyataan lima halaman yang ditandatangani dirinya sendiri di atas materai pada 7 Oktober 2017. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi bohong tersebut terkait dengan pribadi, kompetensi dan pribadi dirinya.
 
Dalam sebuah kesempatan, Dwi memang pernah bertemu dengan Presiden RI ke-3, BJ Habibie. Ketika itu, Dwi mengaku bahwa Habibie yang meminta untuk bertemu dengan dirinya.
 
"Tidak benar bahwa Bapak B.J. Habibie yang meminta untuk bertemu. Sebelumnya saya telah meminta pihak KBRI Den Haag untuk dipertemukan dengan Bapak B.J. Habibie," bunyi klarifikasi Dwi, yang diterima Metrotvnews.com, Senin 9 Oktober 2017.
 
Ia juga sempat mengatakan bahwa Pemerintah Belanda menawarkan mengganti kewarganegaraan dirinya dan kini ia mengklarifikasinya bahwa hal tersebut tidak benar.
 
Awalnya, ia mengaku bahwa dirinya adalah lulusan S1 Tokyo Institute of Technology, Jepang. Padahal, dirinya adalah lulusan S1, Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (1ST AKPRIND), Yogyakarta.
 

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif