Tenaga Kerja dan Pengungsi Masih jadi Tantangan ASEAN

Sonya Michaella 09 Agustus 2018 17:14 WIB
asean
Tenaga Kerja dan Pengungsi Masih jadi Tantangan ASEAN
Diskusi mengenai tantangan ASEAN pada usia ke-51 tahun (Foto: Sonya Michaella).
Jakarta: Memasuki usia ke-51 tahun, ASEAN semakin menghadapi banyak tantangan, termasuk penanganan tenaga kerja dan pengungsi, terlebih tenaga kerja yang berstatus ilegal.
 
"Tenaga kerja dengan status ilegal ini bukan hanya masalah satu negara. Karena mereka juga masuk ke negara yang sama-sama anggota ASEAN. Contohnya dari Indonesia ke Malaysia," kata tim pengajar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Avyanthi Azis, ketika ditemui di Habibie Center, Kamis 9 Agustus 2018.
 
"Proteksi dari perbatasan masing-masing negara juga harus diperkuat. Namun, jangan lupa tenaga kerja ilegal juga harus diperhatikan dari akarnya," lanjut dia.
 
Pengalaman ini tentunya dirasakan oleh Indonesia sendiri di mana masih banyak tenaga kerja ilegal yang masuk ke Malaysia. Hal ini tentunya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
 
"Perlunya ASEAN untuk mulai memberi perhatian bagi masalah tenaga kerja ilegal atau tanpa dokumen ini," ungkap dia.
 
Selain tenaga kerja ilegal, pengungsi juga masih menjadi masalah di kawasan Asia Tenggara, khususnya masalah pengungsi Rohingya.
 
"Untuk Rohingya, saya rasa ASEAN harus ambil tindakan konkret untuk mengatasi ini. Jumlahnya sudah semakin banyak di perbatasan Myanmar-Bangladesh," ujar dia.
 
Avyanthi memberi contoh bahwa Indonesia juga memiliki masalah terkait pengungsi meski Indonesia bukanlah negara tujuan atau negara ketiga.
 
Hingga kini, para pengungsi dari sejumlah negara konflik masih berada di beberapa wilayah di Jakarta, menunggu dikirim ke negara ketiga.
 
Avyanthi berharap agar ASEAN serta 10 negara anggotanya bisa lebih bekerja sama untuk mengatasi dua masalah krusial tersebut.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id