Kondisi di sekitar lokasi ledakan di Universitas Kabul, Afghanistan, 19 Juli 2019. Foto: AFP.
Kondisi di sekitar lokasi ledakan di Universitas Kabul, Afghanistan, 19 Juli 2019. Foto: AFP.

Delapan Tewas dalam Ledakan di Universitas Kabul

Internasional ledakan bom afghanistan
Fajar Nugraha • 19 Juli 2019 16:12
Kabul: Sebanyak delapan orang tewas dan belasan lainnya terluka ketika sebuah bom meledak di dekat sebuah universitas besar di Kabul, Afghanistan. Insiden Jumat, 19 Juli itu terjadi saat para siswa menunggu untuk mengikuti ujian.
 
Ledakan itu terjadi di tengah gelombang kekerasan yang tak berkesudahan di Afghanistan. Warga sipil terbunuh setiap hari dalam konflik yang melelahkan di Afghanistan dan sudah berlangsung selama 18 tahun.
 
“Taliban membantah terlibat dalam ledakan hari Jumat, yang terjadi di dekat pintu masuk selatan ke Universitas Kabul,” ujar seorang pejabat kantor media Kementerian Dalam Negeri, kepada AFP, Jumat, 19 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Juru Bicara Kementerian Kesehatan Wahidullah Mayar mengatakan jumlah korban tewas telah mencapai delapan, dengan 33 lainnya terluka.
 
"Pasien yang terluka telah menerima perawatan medis dan bedah yang diperlukan," kata Mayar di Twitter.
 
Ibu kota Afghanistan menjadi salah satu profil target tertinggi bagi Taliban dan Islamic State (ISIS). Keduanya secara teratur melancarkan serangan dahsyat yang sering membunuh dan melukai warga sipil.
 
Bahar Mehr, pejabat kementerian dalam negeri, mengatakan lima orang tewas termasuk seorang polisi lalu lintas.
 
"Yang terluka adalah mahasiswa hukum yang dikumpulkan untuk (pemeriksaan). Kami tidak tahu berapa banyak siswa yang berkumpul di sana," katanya.
 
“Ledakan itu disebabkan oleh bom,” imbuh Mehr.
 
Laporan media lokal mengatakan polisi telah mengejar kendaraan itu ketika meledak. "Universitas dan kegiatan pemeriksaan bukanlah sasaran serangan itu, kami sedang menyelidiki," ucap Juru Bicara Kepolisian Kabul Firdaws Faramarz kepada jaringan TV TOLO.
 
Pekan lalu, ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan bunuh diri pada upacara pernikahan di Provinsi Nangarhar.
 
Ekstremis garis keras Sunni memiliki jejak yang berkembang di Afghanistan. Amerika Serikat ingin menempatkan pasukan anti-terorisme di negara itu untuk menangani teroris jika terjadi perjanjian damai dengan Taliban.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif