Maroko, Sebuah Pasar Berpotensi Besar untuk Indonesia
Pertemuan Wamenlu AM Fachir dengan Wamenlu dan Kerja Sama Internasional Maroko Mounia Boucetta. (Foto: Sonya Michaella/Medcom.id).
Jakarta: Setidaknya lima Memorandum of Understanding (MoU) disepakati Indonesia dan Maroko dalam kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Maroko Mounia Boucetta ke Jakarta.
 
Kunjungan Boucetta yang diterima Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir ini juga untuk menghadiri Sidang Komisi Bersama RI-Maroko kedua dan Trade Expo International (TEI).
 
"Dari SKB hari ini, kami menandatangani lima MoU. SKB ini merupakan mekanisme untuk meninjau kemajuan hubungan kedua negara dan mendiskusikan berbagai upaya untuk menyelesaikan berbagai isu yang tertunda untuk kemajuan hubungan kedua negara," kata Fachir di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat 26 Oktober 2018.
 
"MoU yang kami tandatangani terkait pemberantasan narkoba, bebas visa untuk paspor diplomatik, energi dan mineral, keagamaan serta pendidikan," lanjut dia.
 
Fachir menggarisbawahi perlunya mekanisme implementasi, mekanisme monitoring sekaligus Plan of Action untuk empat MoU ini, kecuali MoU bebas visa karena akan langsung berlaku secara efektif.
 
"Kami sepakat dalam tiga ke depan sampai Desember, masing-masing lembaga dan kementerian untuk berkomunikasi untuk menyiapkan dan merumuskan Plan of Action," tukas dia.
 
Selain itu, kedua wamenlu juga membahas berbagai upaya untuk mendorong kerja sama ekonomi dua negara termasuk di bidang perdagangan. Disebutkan, Indonesia melihat Maroko sebagai pasar non-tradisional di Afrika Utara yang memiliki potensi besar.
 
Tak hanya itu, disepakati pula standarisasi pembuatan sertifikasi halal, persetujuan di bidang kapal dagang, pertanian, kerja sama di bidang perindustrian, dan kerja sama di bidang UKM.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id