Rohingya menanti bantuan di kamp Kutupalong, Bangladesh. (Foto: AFP)
Rohingya menanti bantuan di kamp Kutupalong, Bangladesh. (Foto: AFP)

Rohingya Khawatir atas Rentetan Pembunuhan di Kamp Bangladesh

Internasional konflik myanmar rohingya pengungsi rohingya
Arpan Rahman • 18 Agustus 2018 14:49
Cox's Bazar: Etnis Rohingya khawatir atas terjadinya serentetan pembunuhan di sejumlah kamp di perbatasan Bangladesh-Myanmar sejak Juni lalu. Hal ini juga membuat kepolisian Bangladesh kewalahan melindungi hampir satu juta pengungsi Rohingya.
 
Hanya ada sekitar 1.000 polisi yang bertugas menjaga sejumlah kamp raksasa berisi Rohingya di Bangladesh. Otoritas Bangladesh mengaku perlu menggandakan jumlah petugas keamanan menyusul terjadinya serentatan pembunuhan.
 
Di antara mereka yang tewas, terdapat tiga tokoh masyarakat. Polisi meyakini kematian ini terkait perebutan kekuasaan antara geng Rohingya di sekitar Cox's Bazar, Bangladesh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu korban ditikam 25 kali di jalan yang sibuk pada Juni kemarin. Dua lainnya tewas di gubuk mereka hanya beberapa hari berselang oleh pria tak dikenal.
 
Saat ini kepolisian Bangladesh sedang menyelidiki 21 kasus pembunuhan di wilayah Cox's Bazar. Wilayah ini dilanda banyak aksi kriminal dalam beberapa bulan terakhir.
 
Pada 2017, sejumlah lembaga bantuan mengatakan hampir 7.000 orang tewas di kamp pengungsian Rohingya, dan diperkirakan tahun ini bisa mencapai lebih dari 10.000.
 
Orang-orang Rohingya yang tinggal di kamp pengungsian terbesar di Kutupalong mengatakan rentetan pembunuhan ini membuat banyak keluarga khawatir dan ketakutan.
 
Runa Akter, 16, yang ayahnya menghilang pada Juli lalu, berkata: "Ketika geng kriminal datang ke kamp, orang-orang memanggil polisi. Tapi polisi tiba setelah para penjahat itu pergi."
 
"Kami takut. Kami mengkhawatirkan seorang saudara saya, karena dirinya sempat diancam akan diculik dan dibunuh," kata Runa, seperti disitat dari Sky News, Sabtu 18 Agustus 2018.
 
Kamp-kamp Rohingya sejak lama telah menjadi target geng kriminal. Kepolisian menyebut ada sejumlah pengungsi yang terkait dengan jaringan perdagangan narkoba dan penyelundupan manusia di beberapa kamp.
 
Masalah di deretan kamp ini semakin memburuk sejak militer Myanmar menggelar operasi di Rakhine yang memaksa 700.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif