Perwakilan IOM Indonesia, Shafira Ayunindya (tengah), di Kedubes AS di Jakarta, Rabu 7 Agustus 2019. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)
Perwakilan IOM Indonesia, Shafira Ayunindya (tengah), di Kedubes AS di Jakarta, Rabu 7 Agustus 2019. (Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta)

Cerita Nelayan Asing Korban TPPO di Indonesia

Marcheilla Ariesta • 07 Agustus 2019 19:04
Jakarta: Sejak hadir di Indonesia, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Migrasi dan Perdagangan Orang (IOM), telah membantu 9.000 korban perdagangan orang. Dari total tersebut, 2.300 diantaranya adalah nelayan.
 
"IOM di Indonesia berjalan sejak 2005, dan sudah ada 9.000 korban perdagangan orang yang kami bantu. Dari 9.000 yang kami bantu, 2.300 diantaranya adalah nelayan, dan mereka rata-rata laki-laki," kata perwakilan IOM Indonesia, Shafira Ayunindya, di Kedutaan Besar AS di Jakarta, Rabu, 7 Agustus 2019.
 
Pia, begitu dia akrab disapa, hadir dalam pemutaran 'Ghost Fleet,' sebuah film dokumenter yang menceritakan kasus korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di sektor perikanan yang ada di Benjina, Maluku.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menceritakan bagaimana kondisi para nelayan asing di Benjina saat IOM membantu mereka pada 2014. Sempat berkaca-kaca, Pia menuturkan kasus ini semakin marak dan jumlahnya meningkat tahun itu.
 
"Mungkin kita perlu berterima kasih kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Karena marak moratorium kapal asing, kasus ini jadi terkuak," ujar Pia.
 
Menurut dia, karena moratorium, kapal-kapal asing menjadi harus berlabuh di Indonesia. Ini menyebabkan para nelayan tersebut terpaksa ke daratan. 
 
Baca: Lima Kapal Asing Disita di Natuna
 
Pada saat itu, cerita Pia, para nelayan yang tadinya hidup di laut berbulan-bulan, bahkan hampir bertahun-tahun, pergi ke hutan. Mereka juga pelan-pelan bersosialisasi dengan masyarakat setempat.
 
"Sebenarnya mereka sudah lama pergi ke wilayah itu untuk menangkap ikan, tapi mereka tidak pernah bersosialisasi dan menetap di daratan dalam waktu lama," jelas dia.
 
Pia menjelaskan para nelayan yang tadinya sudah pupus harapan untuk kembali ke tanah air mereka, terkejut dengan kehadiran IOM. Saat ditanya, banyak yang menjawab ingin kembali ke kampung halaman.
 
"Selain kasus Benjina, ada juga kasus di Ambon. Jadi dari 2014 hingga 2015, ada sekitar 1.500 nelayan asing yang teridentifikasi (korban TPPO)," ungkap Pia.
 
Dia menjelaskan ada pula nelayan yang tidak ingin pulang. Pasalnya, mereka sudah memiliki keluarga di tanah rantaunya tersebut.
 
"Dari sini, IOM hanya membantu asistensi dukungan lebih lanjut hanya untuk mereka yang mau menerima bantuan pemulangan saja," cerita dia.
 
Film dokumenter Ghost Fleet menceritakan mengenai seorang aktivis yang membantu pemulangan Patima Tungpuchayakul, salah satu korban TPPO perusahaan ikan Thailand. Selain dari Thailand, terdapat pula nelayan asal Myanmar dan Kamboja di Benjima.
 
Para nelayan ini merupakan korban TPPO perusahaan ikan dari Thailand yang sudah 'diperbudak' bahkan hingga lebih dari 20 tahun. 
 
Patima telah dinominasikan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2017. Dia dan timnya berhasil menyelamatkan sekitar 5.000 nelayan Thailand korban TPPO yang ada di Benjina.
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif