SBY: Situasi di Suriah Bisa Picu Perang Dingin
Presiden Republik Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono berbicara mengenai krisis Suriah (Foto: YouTube).
Jakarta: Serangan senjata kimia di Douma yang diikuti serangan rudal milik Amerika Serikat (AS) di Damaskus, Suriah dapat memicu perang dingin. Hal ini disampaikan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
 
"Menurut saya apa yang terjadi sekarang ini mencemaskan dan membahayakan. Sebab kalau situasi ini terus berlangsung, balas membalas antara pihak AS dan sekutu, kemudian berhadapan dengan pihak Rusia dan mereka bersama Suriah, maka dunia bukan hanya kembali kepada situasi perang dingin yang berlangsung selama hampir setengah abad dan membuat dunia tegang," kata Presiden Republik Indonesia ke-6 itu dalam keterangannya melalui YouTube, yang dikutip Medcom.id, Selasa 17 April 2018.
 
Dia mengatakan masalah Suriah memang kompleks dan tidak mudah mencari jalan keluarnya, namun, jalur damai secara politik masih tersedia. Karenanya, SBY menambahkan, PBB dan bangsa-bangsa lain, seperti Indonesia, harus serius dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah, khususnya Suriah.
 
"Saya pernah menyaksikan dan ikut juga dalam suasana rileks melihat pemimpin Rusia dan lainnya bersama. Artinya kedekatan, kerja sama dan bersaudaraan yang terbangun itu teduh, meski pun masih ada konflik," tukasnya.
 
"Jadi membayangkan yang dulu, pemimpin Blok Barat dan pemimpin Blok Timur duduk bersama, saya menikmati 10 tahun bersama-sama dengan pemimpin dunia, dengan sikap yang boleh dikatakan tenggang rasa dan toleransi," imbuhnya.
 
Menurut SBY, situasi dunia saat ini mencemaskan, harus ada pemimpin yang berani maju untuk menyelesaikan secara damai, bukan saling balas menyerang atau mengancam. Karenanya, SBY berharap, PBB dan pemimpin dunia lain melakukan sesuatu.

Tetapi menurut Ketua Partai Demokrat itu masih ada ruang dan peluang untuk bisa mendorong pihak yang bertikdai menahan diri tidak melebihi kepatutannya.

"Saya punya keyakinan bangsa-bangsa di negara manapun mencintai perdamaian. Istilahnya tidak ada 'war like nation' (negara yang gemar berperang) tetapi ada 'war like leaders', ada pemimpin-pemimpin yang gemar, senang berperang. Senang menggunakan senjata, tetapi ingat dalam era ini dengan perkembangan sistem senjata yang mematikan karena teknologi yang canggih, kalau salah gunakan senjata korbannya luar biasa," pungkasnya.


"Do something, melakukan langkah diplomatik, bagaimana pun, tolong dicegah situasi yang lebih membahayakan lagi," ujarnya.

Dia meminta semua negara untuk menahan diri berbuat kekerasan. Pasalnya, ujar dia, ruang dan peluang masih tersedia jika masing-masing negara dapat menahan diri.

"Saya berharap pemimpin Indonesia akan juga melakukan langkah diplomasi, paling tidak ikut mengajak pemimpin dunia lain untuk sekali lagi mencegah tidak terjadinya konflik membahayakan bagi dunia," tutupnya.



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id