Menurut kantor berita Yonhap, serangan roket Korut diarahkan ke pengeras suara milik Korel. Pengeras suara ini digunakan Korsel untuk menyiarkan propaganda ke arah tetangganya. Korut pun membalasnya dengan hal serupa.
Korsel memulai kembali aksi propaganda setelah terjadinya insiden ranjau darat yang melukai dua prajuritnya. Korut dituding sebagai pihak yang menaruh ranjau tersebut.
Beberapa hari lalu, Korut mengingatkan Korsel propaganda semacam itu dapat diartikan sebagai deklarasi perang.
"Pengeras suara itu dapat memicu aksi militer berskala penuh untuk menghancurkan semua bentuk progaganda anti-Korut," ucap pernyataan militer Korut.
Kementerian Pertahanan Korsel mendeteksi peluncuran sebuah roket dari arah Korut, di bagian barat perbatasan sekitar pukul 04.00 sore waktu setempat.
"Militer kami membalas dengan peluncuran puluhan roket 155mm ke area tempat Korut meluncurkan artilerinya," ujar juru bicara Kemenhan Korsel, seperti dikutip Yonhap.
"Kami telah memperkuat kesiapan militer kami dan mengawasi ketat setiap gerak-gerik militer Korut," sambung dia.
Belum diketahui apakah ada korban dari aksi saling serang ini. Seorang pejabat lokal di wilayah Yeoncheon, sekitar 60 kilometer dari Seoul, meminta warga di beberapa desa perbatasan untuk mengungsi dari rumah masing-masing.
Korsel dan Korut secara teknis masih berada dalam status perang karena Perang Korea pada 1953 hanya berakhir dengan gencatan senjata.(Nabila Gita)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News