Perempuan Afghanistan berlatih tembak (Foto: Reuters).
Perempuan Afghanistan berlatih tembak (Foto: Reuters).

Perempuan Afghanistan Belajar Senjata dan Berlatih Perang

Arpan Rahman • 07 Desember 2016 13:27
medcom.id, Kabul: Dibawa keluar untuk latihan menembak, gerak badan di ruang olahraga, dan belajar taktik. Itu sudah praktik umum di kamp-kamp pelatihan militer.
 
Tapi mungkin yang paling mengejutkan, mereka yang mengurus persenjataan di akademi militer Afghanistan semuanya perempuan.
 
Di sebuah negara yang dianggap salah satu tempat paling keras di dunia untuk menjadi seorang wanita, hampir 150 perempuan muda direkrut untuk berlatih menjadi perwira di kamp Kabul.
 
Perempuan dan laki-laki berlatih secara terpisah di markas pinggiran ibukota, tetapi para pelatih mengatakan pelatihannya mirip, termasuk pendidikan jasmani, senjata api, taktik, dan perawatan medis.
 
Perempuan Afghanistan Belajar Senjata dan Berlatih Perang
Tentara perempuan di Afghanistan (Foto: Reuters).
 
 
Letnan Kolonel Cobra Tanha, veteran militer 28 tahun, mengatakan bahwa -- tidak seperti banyak warga Afghanistan -- semua wanita yang lulus dari akademi yang terpelajar, akan mengabdi di salah satu dari beberapa peran non-tempur, meliputi manajemen, sumber daya manusia, logistik, radio operasi atau intelijen.
 
Beberapa di antaranya mungkin bertugas mendampingi pasukan khusus Afghanistan. "Misinya seperti serangan malam, yang sering membutuhkan perempuan untuk membantu dengan naluri pencarian yang peka dalam mengenali sasaran," katanya seperti dilansir The Sun, Selasa (6/12/2016).
 
Para rekrutan yang antusias berkata bahwa mereka merasa bangga menjadi bagian dari upaya membela tanah air mereka. Afganistan masih dilanda pemberontakan Taliban dan kelompok militan lain hendak menggulingkan pemerintah yang didukung Barat.
 
Sakina Jafari, 21, berucap: "Saya memutuskan untuk bergabung dengan tentara demi menyelamatkan kehidupan masyarakat dan membela diri saya sendiri." Seraya menambahkan bahwa ia percaya pengabdiannya adalah sebuah teladan. "Hal ini mendorong perempuan lain untuk bergabung dengan barisan tentara," bubuhnya.
 
Amerika Serikat (AS) memiliki sekitar 7.000 tentara di Afghanistan sebagai bagian dari misi yang dipimpin NATO untuk menyumbang saran dan melatih pasukan Afghanistan. Paman Sam telah menganggarkan setidaknya USD93,5 juta pada 2016 untuk meningkatkan jumlah perempuan di militer.
 
Meskipun investasi berbilang tahun, tentara Afghanistan kurang dari 900 diperkuat perempuan, jauh lebih sedikit dari target 5000, menurut Inspektur Jenderal Khusus Pemerintah AS untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR).

Perempuan Afghanistan Belajar Senjata dan Berlatih Perang
Prajurit perempuan Afghanistan berlatik tembak (Foto: Reuters).
 
 
Hasina Hakimi, 19, mengatakan dia tidak bisa kembali ke rumahnya karena ancaman Taliban. Banyak perempuan melaporkan, mereka menghadapi tantangan dalam Angkatan Darat sendiri. Perempuan yang bekerja di jabatan publik dipandang kontroversial di Afghanistan.
 
Tahun lalu, hampir 60 persen dari warga Afghanistan yang disurvei oleh Asia Foundation mengatakan, mereka tidak terima perempuan bekerja jadi tentara atau polisi.
 
Bahkan setelah bergabung, perempuan mungkin menemui hambatan dalam pekerjaan dan dipromosikan di militer, SIGAR melaporkan.

Perempuan Afghanistan Belajar Senjata dan Berlatih Perang
Pelatihan yang dijalani prajurit perempuan Afghanistan (Foto: Reuters).
 
 
Para pelatih NATO menemukan alasan umum wanita yang meninggalkan pasukan keamanan lantaran: "Oposisi dari kerabat laki-laki, masalah dengan rekan-rekan pria, upah rendah, kewajiban keluarga, kurangnya promosi atau peluang tugas penting, dan kurangnya pelatihan dan keamanan," menurut Sigar.
 
Mereka sulit dikonfirmasi oleh Benafsha Sarwari, seorang guru 20 tahun di akademi Kabul, yang bagaimanapun menyatakan tekadnya untuk tetap bekerja. "Saya sudah mengalami banyak tantangan," tegasnya.
 
"Kami hidup dalam masyarakat yang konservatif dan kebanyakan orang pesimis tentang perempuan yang bekerja di luar rumah. Tapi kami tidak harus menyerah. Kami harus mengatasi tantangan dan melakukan tugas kami," pungkasnya.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan