Aborigin telah tinggal di Negeri Kanguru sedikitnya sejak 40 ribu tahun lalu, namun jumlahnya kini hanya 470 ribu dari total populasi 23 juta. Mereka berpendidikan rendah, sulit mendapat pekerjaan dan harapan hidupnya lebih pendek dari penduduk non-pribumi.
Dalam mengatasi perbedaan tersebut, pemerintah Australia mengenalkan program "Closing the Gap" pada 2009. Laporannya kembali dibacakan Turnbull pada Rabu (10/2/2016).
Ia memuji adanya beberapa kemajuan dalam program ini, termasuk target memangkas angka kematian anak Aborigin hingga separuhnya pada 2018, meningkatkan jumlah Aborigin yang bisa membaca dan berhitung dan menambah proporsi kelulusan siswa SMA dari suku Aborigin.
Namun Turnbull menyebut perbedaan harapan hidup Aborigin dengan penduduk non-pribumi masih terlalu lebar.
"Ada banyak tugas besar ke depan, dengan tantangan nyata dan sulit," tutur Turnbull, seperti dilansir AFP.
Harapan hidup pria non-pribumi adalah 79,7 tahun, dibanding dengan Aborigin 69,1 pada 2010-2012. Sementara wanita non-pribumi 83,1 tahun dan Aborigin 73,7.
Meski Aborigin hanya sekitar tiga persen dari total populasi, mereka merepresentasikan 27 persen dari populasi penjara. Masalah utamanya, menurut Tunbull, adalah penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.
Turnbull menilai bekerja sama dengan suku asli di seantero Australia adalah kunci untuk memangkas jurang perbedaan dalam taraf hidup, pendidikan dan sektor lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News