Anwar Ibrahim menilai perusahaan harus bertanggungjawab dalam kebakaran hutan. Foto: AFP
Anwar Ibrahim menilai perusahaan harus bertanggungjawab dalam kebakaran hutan. Foto: AFP

Anwar Ibrahim Minta Perusahaan Penyebab Kebakaran Bertanggungjawab

Internasional kebakaran hutan anwar ibrahim
Marcheilla Ariesta • 20 September 2019 19:48
Singapura: Anwar Ibrahim meminta perusahaan-perusahaan penyebab kebakaran hutan di Indonesia untuk diseret dan dimintai pertanggungjawaban. Pasalnya, mereka telah menyebabkan kabut asap yang mengakibatkan masalah kesehatan di Indonesia, Malaysia, Singapura, bahkan Thailand.
 
Anwar menambahkan pemerintah tidak boleh menolak ketika menangani masalah tersebut.
 
Di Milken Institute Asia Summit, Singapura, Anwar menyoroti bahwa kabut asap telah menyebabkan masalah di Malaysia, Indonesia dan Singapura dan banyak lagi yang harus dilakukan untuk mencegah agar tidak terulang kembali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jutaan orang terkena dampaknya, ribuan sekolah tutup. Jutaan orang telah dihabiskan oleh rakyat biasa untuk membeli beberapa pil dan masker. Dan pemerintah tidak dapat bekerja sama untuk menyelesaikan ini," katanya dilansir dari Channel News Asia, Jumat, 20 September 2019.
 
Sebuah laporan menyebutkan beberapa kebakaran yang menyebabkan kabut terlihat di perkebunan kelapa sawit yang dioperasikan oleh empat anak perusahaan Malaysia. Politisi Malaysia ini menyebutkan jika perusahaan terbukti bersalah, maka harus dihukum.
 
"Begitu terbukti bahwa perusahaan-perusahaan ini terlibat, maka mereka harus diseret dan dimintai pertanggungjawaban," kata Anwar.
 
Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan pada Rabu lalu, bahwa Malaysia mungkin harus mengesahkan undang-undang yang memaksa perusahaannya mengatasi kebakaran di tanah yang mereka miliki, di luar negeri.
 
Anwar mengungkapkan sentimen serupa, dan menekankan bahwa perusahaan yang bertanggung jawab harus menyediakan sumber daya untuk membantu meredakan kebakaran. Dalam arti, mereka tidak serta merta meninggalkan beban pemadaman api 'seluruhnya' kepada pemerintah Indonesia.
 
"Pengaruh konglomerat-konglomerat besar begitu kuat - mereka mendaftarkan laba 800 juta hingga 1 miliar ringgit Malaysia, tetapi mereka masih tidak mampu menyisihkan 20 juta hingga 30 juta ringgit Malaysia untuk membantu meringankan bagian dari masalah," imbuh Anwar.
 
Anwar menyoroti bahwa negara-negara di ASEAN harus bekerja sama dan melihat kembali masalah kabut asap yang 'mempengaruhi jutaan orang'.
 
"Saya tentu saja tidak akan menyalahkan negara-negara tetangga. Ada yang mengatakan orang Indonesia yang salah, tetapi ada perusahaan Malaysia yang terlibat, dan perusahaan Singapura memiliki banyak saham di sana, sehingga ketiganya harus menanggung kesalahan," seru Anwar.
 
Kabut asap yang berasal dari karhutla di Kalimantan dan Sumatra diklaim memengaruhi kualitas udara di berbagai negara tetangga, yaitu Malaysia, Singapura, bahkan Thailand.
 
Songkhla dan Yala di Thailand Selatan merupakan wilayah yang terdampak kabut asap. Menurut Departemen Pengendalian Pencemaran, kualitas udara di Songkhla mencapai angka 50, di mana angka ini digolongkan sebagai kualitas udara yang cukup tidak sehat.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif