medcom.id, Jakarta: Indonesia dan Maladewa bersaing untuk kursi keanggotaan tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
Namun meskipun bersaing, hubungan antara kedua negara tetap baik dan persaingan pun berjalan profesional. Hal ini dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno L.P Marsudi usai menerima kunjungan Menlu Maladewa Mohammad Asim di Jakarta.
"Kita tahu bahwa kedua negara mengajukan kandidasi untuk anggota DK PBB periode 2019-2020," ujar Menlu Retno, usai melakukan pertemuan dengan Menlu Asif di Gedung Pancasila, Jakarta, Rabu 21 Juni 2017.
Ketika ditanya apakah ada bentuk negosiasi, saat melakukan pertemuan dengan Menlu Maladewa, Menlu Retno menegaskan: "Tidak ada".
"Masing-masing hanya menyampaikan ya kita bersaing dalam hal itu (DK PBB), tetapi bersaing memperebutkan satu tempat merupakan yang biasa dalam PBB. Tapi konteks itu tidak akan mempengaruhi hubungan baik andara Maladewa dan Indonesia," jelas Menlu Retno.
(Baca: RI Terus Galang Dukungan Pencalonan Anggota Tidak Tetap DK PBB).
(Baca: RI Terus Galang Dukungan Pencalonan Anggota Tidak Tetap DK PBB).
Pemilihan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020 akan dilaksanakan pada Juni 2018. Indonesia bersaing dengan Maladewa untuk memperebutkan satu kursi yang dialokasikan bagi Kelompok Asia Pasifik.
Dari dukungan yang dikumpulkan, Indonesia harus mendapat dukungan, paling tidak, sebanyak 130 negara. Peluncuran pencalonan anggota tidak tetap DK PBB ini resmi diluncurkan Indonesia saat Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, September 2016 lalu.
Sebelumnya, Indonesia sudah pernah tiga kali menjabat sebagai anggota tidak tetap DK PBB, yaitu pada tahun 1973-1974, 1995-1996, dan 2007-2008.