Kementerian Maritim Korsel menduga kerangka manusia itu adalah salah satu korban yang dinyatakan hilang dalam tragedi pada 2014.
Sewol diangkat ke permukaan dari dasar laut pekan lalu, hampir tiga tahun setelah tragedi yang menewaskan lebih dari 300 orang. Usai diangkat, Sewol ditaruh di sebuah kapal untuk kemudian dibawa ke daratan.
Hampir semua korban tewas adalah anak usia sekolah, dan hingga saat ini masih ada sembilan orang yang belum ditemukan. Dikhawatirkan kesembilan orang itu masih terjebak di dalam Sewol.
Kantor berita Yonhap mengatakan kerangka manusia ditemukan di kapal khusus yang membawa Sewol tanpa menyebutkan detail lebih lanjut.
Jasa Forensik Nasional Korsel serta beberapa pejabat dan polisi dikerahkan ke lokasi untuk mengidentifikasi kerangka tersebut.
Selama ini keluarga korban mendesak pemerintah untuk segera mengangkat Sewol. Tim penyelam mengakhiri pencarian korban Sewol pada November 2014. Sekelompok keluarga korban mendirikan rumah sementara di Paengmok, sebuah pelabuhan dekat lokasi tragedi.
Kapal khusus yang membawa Sewol dijadwalkan bertolak ke Mokpo, sebuah pelabuhan besar di pesisir selatan, pada Kamis mendatang.
Investigasi tragedi Sewol menyimpulkan bahwa sebagian besar terjadi karena kesalahan manusia -- desain ilegal, kelebihan muatan kargo, kru yang tidak berpengalaman dan hubungan yang dipertanyakan antara operator kapal dengan regulator lokal.
Kepemimpinan Park Geun-hye ketika itu juga dipertanyakan. Saat Sewol tenggelam, Park tidak bisa dihubungi selama tujuh jam.
Kapten kapal Sewol, Lee Jun-seok, dihukum penjara seumur hidup atas "pembunuhan atas kelalaian yang disengaja." Belasan kru lainnya juga dipenjara antara dua hingga 12 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News