Korban selamat, yang memilih tinggal di ruang terbuka karena khawatir gempa susulan, terancam kekurangan pasokan air bersih, makanan dan obat-obatan. Bantuan yang disalurkan, baik dari pemerintah Nepal maupun negara asing, terhambat sulitnya akses, kerusakan infrastruktur dan buruknya sistem komunikasi.
"Kami membutuhkan banyak helikopter untuk operasi penyelamatan di wilayah pegunungan," ucap juru bicara Kementerian Dalam Negeri Nepal Laxmi Prasad Dhakal pada AFP, Senin (27/4/2015).
"Kami juga butuh banyak bantuan darurat seperti makanan dan air bersih untuk kebutuhan korban selamat," sambung dia.
Sejak gempa 7,8 SR melanda Nepal pada Sabtu lalu, serangkaian gempa susulan berkekuatan di atas 4 SR terus terjadi. Gempa ini memicu salju longsor di Gunung Everest, yang menewaskan sedikitnya 18 pendaki. Ratusan pendaki lainnya berada dalam kondisi selamat, namun masih belum bisa turun gunung karena terputusnya akses.
"Tiga helikopter dikerahkan (ke Everest) untuk membantu pendaki turun dari kamp satu dan dua. Mereka selamat, tapi kami harus menurunkan mereka karena sebagian rute ke bawah sudah rusak," kata Kepala Departemen Pariwisata Nepal Tulsi Gautam.
"Mungkin pendakian di Everest tahun ini tidak akan dilanjutkan," tambah dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News