Rohingya Takut Pulang, Kamp Transit Myanmar Sepi
Pengungsi Rohingya berada di area antara Myanmar dan Bangladesh. (Foto: AFP)
Rakhine: Kamp transit di Rakhine sudah dibangun pemerintah Myanmar untuk menyambut kembali 150 pengungsi Rohingya dari Bangladesh pada setiap harinya.

Namun kamp tersebut kosong melompong hampir setiap hari sepanjang pekan, seiring ketakutan dan kekhawatiran para Rohingya terhadap aksi kekerasan yang mungkin akan mereka terima kembali jika pulang ke Rakhine.

"Kami sudah siap menerima mereka kembali sejak Januari, saat kamp ini kami buka," ujar kepala imigrasi Win Khaing kepada sejumlah awak media di Nga Khu Ra, seperti dikutip dari AFP, Sabtu 30 Juni 2018.


Para pejabat imigrasi Myanmar menunggu Rohingya yang tak kunjung datang. Mereka hanya membolak-balik dokumen dan mempersiapkan peralatan biometrik, dan sesekali menyambut kedatangan delegasi atau jurnalis.

Kurang dari 200 Rohingya saat ini sudah kembali pulang ke Rahkhine. Jumlah tersebut sangat kecil dari sekitar 700 ribu yang melarikan diri dari operasi pemerintah di Rakhine pada Agustus.

Sejumlah wanita mengaku diperkosa pasukan keamanan Myanmar saat operasi perburuan militan berlangsung di Rakhine. Ada juga saksi mata yang mengaku menyaksikan eksekusi dan kekerasan keji lainnya oleh militer Myanmar terhadap Rohingya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut operasi militer Myanmar di Rakhine dapat disebut sebagai pembersihan etnis. Myanmar membantah, dan mengaku hanya menjalankan operasi perburuan militan Arakan Rohingya Salvation Army atau ARSA.

April lalu, pemerintah Myanmar mendeklarasikan kepulangan seorang keluarga Rohingya ke Rakhine. Namun hal tersebut dianggap hanya 'atraksi' karena ternyata keluarga itu berasal dari area yang secara teknis masih bagian dari Myanmar.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id