Wamenlu: Ekstremisme bukan Bersumber dari Ajaran Agama
Delegasi dari beberapa negara dalam The 6th Congress of Leaders of the World and Traditional Religions, di Istana Perdamaian, Astana, Kazakshtan, dok: istimewa
Astana: Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir berbicara pada sebuah kongres yang membahas perdamaian di Kazakhstan. Pemimpin dunia menurut Wamenlu memiliki tanggung jawab besar mewujudkan perdamaian.

“Pemimpin dunia memiliki tanggung jawab yang krusial untuk mengembalikan peran agama sebagai panduan mewujudkan perdamaian di dunia,” demikian Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir dalam pernyataan yang disampaikan dalam The 6th Congress of Leaders of the World and Traditional Religions, di Istana Perdamaian, Astana, Kazakshtan, dalam keterangan tertulis Kemenlu RI, yang diterima Medcom.id, Kamis 11 Oktober 2018.

Wamenlu menegaskan sudah semestinya agama menjadi sumber inspirasi bagi pemimpin dunia untuk menciptakan hubungan antarmanusia yang berlandaskan harmoni dan toleransi. “Aksi-aksi kekerasan dan ekstremisme pada hakikatnya bukan bersumber dari ajaran mulia agama. Bahkan tindakan tersebut bertentangan dengan misi utama agama,” ujar Wamenlu.


Mengambil contoh Indonesia, Wamenlu menyampaikan meskipun bukan negara yang berlandaskan agama, Indonesia berhasil mengejawantahkan nilai-nilai adiluhur yang dikandung dalam ajaran agama. “Dengan berbagai agama yang ada, kekayaan bahasa, serta keragaman suku bangsa, masyarakat Indonesia saling menghormati perbedaan dan hidup dalam situasi yang damai,” tegasnya.

Mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi ini pun memberikan tips yang telah dilakukan Indonesia kepada para peserta kongres. “Pemerintah Indonesia secara aktif melibatkan berbagai pihak terkait, di dalam dan luar negeri, untuk menyebarkan pesan perdamaian,” tutur Wamenlu.

Wamenlu Fachir turut menjelaskan bagaimana pemerintah terus mendorong dan memfasilitasi kelompok civil society berbasis agama untuk mengadakan dialog lintas agama.

Pada Mei 2018 lalu, Indonesia telah mengundang 138 Ulama dunia untuk berpartisipasi merumuskan konsep moderat dalam beragama dan menghasilkan Bogor Message. Selain itu, Pemri juga mengadakan trilateral conference ulama Afghanistan dan Pakistan sebagai bentuk kontribusi Indonesia mewujudkan perdamaian di kawasan tersebut.

Pada level bilateral, Pemerintah Indonesia telah membangun jaringan dialog dengan lebih dari 30 negara. Bahkan, inisiatif dialog lintas agama tersebut dikembangkan pada level regional, seperti dalam kerangka ASEM, MIKTA, dan APEC.

Kongres yang berlangsung selama dua hari tersebut menghasilkan dokumen deklarasi yang berisi komitmen bersama untuk mewujudkan perdamaian dan mendorong kerja sama konkrit untuk menyebarkan nilai-nilai mulia agama.

Kongres ini merupakan inisiatif Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev dan berlangsung pertama kali pada tahun 2003. Dalam pertemuan keenam kali ini, beberapa pemimpin negara dan pemuka agama hadir dalam kegiatan tiga tahunan tersebut, seperti Presiden Serbia Aleksandar Vucic dan Grand Sheikh Azhar Sheikh Ahmad Thayeb.




(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id