Kombinasi pasukan Nasional Afghanistan (ANA) dan pasukan Amerika Serikat (AS) lebih banyak menewaskan warga sipil Afghanistan. (Foto: AFP).
Kombinasi pasukan Nasional Afghanistan (ANA) dan pasukan Amerika Serikat (AS) lebih banyak menewaskan warga sipil Afghanistan. (Foto: AFP).

PBB: Banyak Warga Afghanistan Tewas oleh Pasukan AS

Internasional afghanistan AS-Afghanistan
Arpan Rahman • 24 April 2019 19:07
Kabul: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan laporan yang menyebutkan warga sipil Afghanistan terbunuh oleh pasukan Amerika Serikat dan pro-pemerintah daripada oleh Taliban dan kelompok militan lainnya.
 
Tonggak berdarah terjadi ketika AS meningkatkan kampanye udara di Afghanistan sambil mendorong perjanjian damai dengan Taliban. Taliban sekarang mengendalikan atau mempengaruhi lebih banyak bagian negara daripada kapan pun sejak mereka digulingkan pada 2001.
 
Selama tiga bulan pertama 2019, pasukan internasional dan pro-pemerintah bertanggung jawab atas kematian 305 warga sipil, sedangkan kelompok pemberontak menewaskan 227 orang, Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA) mengatakan dalam laporan triwulan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mayoritas kematian disebabkan serangan udara AS atau dari operasi pemburuan di darat, terutama dilakukan pasukan Afghanistan didukung AS, beberapa di antaranya UNAMA katakan "tampaknya bertindak dengan impunitas".
 
"UNAMA mendesak pasukan keamanan nasional Afghanistan dan pasukan militer internasional untuk melakukan penyelidikan atas dugaan korban sipil, guna mempublikasikan hasil temuan mereka, dan untuk memberikan kompensasi kepada para korban sebagaimana mestinya," bunyi laporan itu, disiarkan dari laman AFP, Rabu 24 April 2019.
 
Dukungan Tegas, misi NATO di Afghanistan, tidak segera menanggapi permintaan komentar. UNAMA mulai mengumpulkan data korban sipil pada 2009 di tengah memburuknya kondisi keamanan di Afghanistan.
 
Ini adalah penghitungan pertama sejak catatan dimulai yang menunjukkan pasukan pro-pemerintah menewaskan lebih banyak warga sipil daripada pemberontak.
 
Pada 2017, militer AS mulai mempercepat tempo operasionalnya setelah Presiden Donald Trump melonggarkan pembatasan dan membuatnya lebih mudah bagi pasukan Amerika untuk mengebom posisi Taliban.
 
Sementara negara lain hanya memberikan kontribusi logistik atau dukungan teknis, pesawat AS melakukan paling banyak serangan. Angkatan udara Afghanistan juga menerbangkan lebih banyak serangan.
 
AS telah mengudarakan pesawat pengebom B-52 besar di atas negara itu dan mendapat manfaat dari peningkatan perangkat keras udara tatkala operasi terhadap kelompok militan Islamic State (ISIS) di Irak dan Suriah makin gencar.
 
Namun, laporan UNAMA juga menemukan bahwa korban sipil turun 23 persen dibandingkan dengan tiga bulan pertama 2018.Secara keseluruhan, UNAMA mendokumentasikan 1.773 korban pada kuartal terakhir: 581 kematian dan 1.192 terluka -- korban kuartal pertama terendah sejak 2013.
 
Penurunan itu didorong oleh anjloknya penggunaan serangan bom bunuh diri, tetapi UNAMA tidak tahu apakah tren ini muncul sebagai akibat dari musim dingin yang dahsyat atau Taliban berupaya membunuh lebih sedikit warga sipil selama pembicaraan damai.
 
Sebaliknya, tiga bulan pertama 2018 serangan mengerikan melonjak membuat angka lebih tinggi untuk bagian tahun itu dibandingkan dengan 2019. Misalnya, lebih dari 100 orang terbunuh di Kabul pada Januari 2018 ketika banyak ambulans dipenuhi bahan peledak.
 
Kepala UNAMA Tadamichi Yamamoto, sekaligus perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Afghanistan, mengatakan "jumlah yang mengejutkan" warga sipil masih terbunuh atau cacat.
 
"Semua pihak harus berbuat lebih banyak untuk melindungi warga sipil," kata Yamamoto dalam sebuah pernyataan.
 
"Unsur-unsur anti-pemerintah perlu berhenti dengan sengaja menargetkan warga sipil dan menggunakan IED (bom buatan tangan), yang menyebabkan bahaya sembarangan; pasukan pro-pemerintah diminta mengambil langkah-langkah segera demi mengurangi meningkatnya jumlah korban jiwa dan penderitaan yang disebabkan oleh serangan udara dan operasi pencarian," dia menambahkan.
 
Tahun lalu adalah yang paling mematikan bagi warga sipil Afghanistan, dengan 3.804 tewas, menurut UNAMA.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif