Menurut keterangan Badan Meteorologi Jepang (JMA), dikutip dari Independent, gempa terjadi pukul 18.22 waktu setempat di lepas pantai Chiba, dengan kedalaman episenter mencapai 80 kilometer.
Guncangan terasa hingga ke ibu kota dan area sekitarnya. JMA menyebut gempa terbaru ini tidak memicu gelombang tsunami.
Lebih dari 3,2 juta orang di sejumlah prefektur di Jepang telah diperintahkan untuk mengungsi ke tempat aman. JMA menyebut Hagibis yang membawa hujan deras serta angin kencang dapat memicu terjadinya banjir dan juga tanah longsor.
Satu orang dilaporkan tewas akibat terkena imbas Topan Hagibis. Korban tewas diketahui sebagai seorang pria yang mobilnya terbalik usai disapu angin kencang.
Setidaknya satu tanah longsor akibat Hagibis dilaporkan telah terjadi di Jepang. Longsor itu menerjang tiga rumah di Sagamihara. Petugas berhasil menyelamatkan seorang pria lanjut usia di wilayah tersebut.
Hagibis diproyeksikan menjadi topan dalam kategori "sangat kuat" yang akan menghantam pulau utama Honshu sejak 1991.
Selain berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, Hagibis telah mengganggu moda transportasi umum di sejumlah wilayah di Jepang. Layanan kereta api di Tokyo dan Shizuoka ditutup total menjelang kedatangan Hagibis.
Hampir 2.000 penerbangan domestik serta internasional dari dan menuju Tokyo juga telah dibatalkan.
Sementara mengenai warga negara Indonesia di Jepang, KBRI Tokyo dan KJRI Osaka mengimbau semua WNI untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.
"Hingga saat ini belum ada laporan mengenai WNI yang menjadi korban langsung dari Badai Hagibis," ujar keterangan tertulis KBRI Tokyo dan KJRI Osaka yang diterima Medcom.id. Menurut data terbaru Pemerintah RI total WNI di Jepang saat ini mencapai 56.346 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News