Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memimpin Kemenlu RI selama 5 tahun terakhir. Foto: AFP
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memimpin Kemenlu RI selama 5 tahun terakhir. Foto: AFP

Kondisi Dalam Negeri Pengaruhi Kekuatan Diplomasi Indonesia

Internasional kemenlu diplomasi luar negeri menlu retno lp marsudi Evaluasi Kabinet Kerja
Marcheilla Ariesta • 20 Oktober 2019 09:05
Jakarta: Periode pertama Kabinet Kerja pimpinan Presiden Joko Widodo akan segera rampung. Kementerian Luar Negeri menjadi salah satu kementerian yang mencolok dalam hal kinerjanya.
 
Nama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi banyak yang menilai pantas untuk diberikan kesempatan lagi pada periode kedua. Ada beberapa catatan yang bisa diberikan selama lima tahun terakhir kementerian luar negeri memegan peran kebijakan luar negeri Indonesia.
 
Menurut pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, Kemenlu sudah mempersiapkan praktik Diplomasi RI di masa depan yang berbasis riset, dengan melibatkan perguruan tinggi dan lembaga riset di dalam negeri. Misalnya, atas isu-isu seperti Gastro Diplomacy, Lautan Artik, dan Kawasan Karibia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya itu, Rezasyah menyebutkan, Kemenlu terus melaksanakan sistem pendidikan dan pelatihan secara sistematis dan terukur di jenjang Sekolah Dinar Luar Negeri (Sekdilu), Sekolah Staf Dinals Luar Negeri (Sesdilu) dan Sekolah Staf dan Pimpinan Luar Negeri (Sesparlu). Materi yang diajarkan menurut Rezasyah, sudah disesuaikan dengan perkembangan keilmuan dan praktik diplomasi yang mutakhir. Hasilnya adalah diplomat yang siap tugas dan siap kuliah di strata yang lebih tinggi.
 
“Universitas di dalam negeri sangat menghargai program Debriefing, dimana para Duta Besar RI yang baru menyelesaikan tugas, membagikan pengalaman kedinasan mereka. Forum yang dibuat Kemenlu ini memungkinkan kalangan kampus menyesuaikan kurikulum mereka dengan materi terkini, dan membangun jaringan baru di luar negeri. Program ini juga memungkinkan mahasiswa tingkat akhir melakukan wawancara,” ujar Rezasyah kepada Medcom.id.
 
“Sangatlah sulit menerapkan kebijakan yang menyeluruh dan berjangka panjang, mengingat turunnya kurs Rupiah dibandingkan dengan mata uang asing global seperti Dolar, Euro, dan Yen. Sehingga mengurangi kapasitas dalam menyelenggarakan ekspor produk Indonesia dan pentas seni budaya, pembelian modal kerja, termasuk menerapkan diplomasi digital secara terkendali,” imbuh Rezasyah.
 
“Menurunnya stabilitas di dalam negeri Indonesia pascapemilu, pilpres, dan pilkada, mempersulit Indonesua menjalankan diplomasi publik yang menjangkau masyarakat di luar negeri. Hal ini terasa sekali kala memperjuangkan kemenangan atas isu-isu seperti Papua, Kelapa Sawit, dan investasi,” tegasnya.
 

Salah satu masalah yang menimbulkan kesulitan bagi Kemenlu adalah merebaknya otonomi daerah. Hal ini menyebabkan Kemenlu sulit memonitor pergerakan banyak provinsi, dan Kabupaten/Kota dalam menjalankan program kemitraan mereka, yang saling tumpang tindih dan tidak fokus. Bagi Rezasyah, daerah seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan Kemenlu, yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam merancang program kerja sama internasional hingga tataran teknis.


Peningkatan kemampuan diplomat


Mengingat semakin kompleksnya hubungan di masa depan, diharapkan Kemenlu memperbanyak diplomat yang memiliki kemampuan khusus. Misalnya dalam aspek kewilayahan dengan spesialisasi bahasa dan budaya Rusia, Mandarin, Hindi, Arab, Spanyol, Perancis.
 
“Indonesia sulit menjadi negara yang galak dalam diplomasi, karena menurunnya anggaran dan stabilitas di dalam negeri. Dimana idealisme pembangunan dan perdamaian yang dibangun tersebut, sulit dicontohkan oleh Indonesia sendiri,” jelasnya.
 
Pada dasarnya Indonesia memang galak dalam isu global seperti nasib rakyat Palestina dan masa depan Palestina, sebagaimana dibuktikan di persidangan Sidang Majelis Umum PBB. Khusus kasus ini, Indonesia berani berseberangan dengan negara manapun.
 
Khusus menghadapi negara-negara di Pasifik Selatan yang kerap kali menyerang Indonesia dalam isu Papua, perlu dilakukan pendekatan khusus. Misalnya melalui pembukaan perwakilan yang baru, memperbanyak kunjungan pejabat pemerintah, serta mendorong wirausahawan Indonesia berinvestasi disana.


Strategi 5 Tahun ke Depan


Diplomasi bukannya tanpa tantangan. Kementerian Luar Negeri Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi dinamika komunitas internasional.
 
Teuku Rezasyah mengatakan setidaknya ada empat hal penting yang perlu menjadi perhatian bagi jajaran diplomat di Kemenlu RI khususnya menlu mendatang. Isu tersebut antara lain:
 
1. Untuk Visi dan Misi, para diplomat harus mempersiapkan Kemenlu sebagai institusi yang mampu melestarikan nilai-nilai luhur ideologi negara dan tujuan nasional Indonesia yang telah dijelaskan dalam naskah pembukan UUD NKRI Tahun 1945. Ini dilakukan agar sejalan dengan perkembangan masa depan yang semakin kompleks, serta padat ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, demi kemuliaan bangsa Indonesia.
 
2. Dalam segi keorganisasian. Sosok menteri yang akan dipilih oleh Presiden Joko Widodo harus. mempersiapkan struktur Kemenlu yang mampu menyesuaikan berbagai fungsinya dengan peluang dan tantangan yang berbasis lintas Geostrategi, Geoekonomi, Geopolitik, Geoteknologi, dan Geoperadaban.
 
3.Secara SDM, Kemenlu RI perlu mempersiapkan kader-kader yang nasionalis, bermoral, berbudi luhur, berintelektual, serta mendalami kedudukan RI dalam konteks persaingan global. Tidak hanya itu, para diplomat juga harus mampu berinteraksi lintas peradaban, serta memiliki kecakapan mengoperasikan organisasi modern berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.
 
4. Secara manajerial, sosok Menlu RI perlu menempatkan Kemenlu sebagai organisasi modern yang mampu mengelola dan mengendalikan seluruh aspek kepentingan nasional dari berbagai Kementerian dan Lembaga di dalam negeri yang berhubungan dengan luar negeri.
 

 


 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif