Demonstran dan polisi terlibat bentrok di Hong Kong pada Sabtu 30 November 2019. (Foto: AFP / Nicolas ASFOURI)
Demonstran dan polisi terlibat bentrok di Hong Kong pada Sabtu 30 November 2019. (Foto: AFP / Nicolas ASFOURI)

Pedemo Hong Kong Kembali ke Jalanan usai Jeda Pemilu

Internasional hong kong Protes Hong Kong
Arpan Rahman • 01 Desember 2019 13:04
Hong Kong: Demonstran pro-demokrasi Hong Kong kembali turun ke jalanan, Minggu 1 Desember 2019, setelah aksi protes sempat terhenti sejenak saat berlangsungnya pemilihan umum daerah.
 
Unjuk rasa hari ini kembali terjadi setelah sempat terjadi keributan kecil pada Sabtu malam. Kericuhan meliputi seorang pria yang diserang saat berusaha membersihkan barikade, dan polisi menembakkan gas air mata untuk kali pertama sejak pemilu Hong Kong pada 24 November.
 
Pemilu tersebut berakhir dengan kemenangan mutlak bagi para kandidat pro-demokrasi Hong Kong.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pedemo berencana menggelar tiga aksi hari ini, termasuk berjalan ke gedung Konsulat Amerika Serikat untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan Washington terhadap Hong Kong.
 
Rencana aksi lainnya akan digelar nanti malam, termasuk mengenai penekanan kembali lima tuntutan utama demonstran pro-demokrasi Hong Kong. Salah satu tuntutan adalah menggelar pemilu langsung untuk kepemimpinan dan badan legislatif Hong Kong.
 
Selama ini, tokoh pemimpin Hong Kong ditunjuk langsung oleh Tiongkok.
 
"Saya hanya ingin mengingatkan lagi semua orang meski kita menang dalam pemilu dewan distrik, kita tidak boleh lupa semangat awal gerakan ini," tulis sebuah koordinator aksi protes di forum LIHKG.
 
"Kita harus kembali ke tema utama, yakni merebut kembali Hong Kong, dan pemenuhan lima tuntutan," sambungnya, dilansir dari laman AFP.
 
Sabtu malam kemarin, polisi menembakkan tiga gas air mata untuk kali pertama sejak pemilu dewan distrik. Aparat melakukannya usai sekelompok pengunjuk rasa memblokade ruas jalan di Mong Kok.
 
Polisi Hong Kong telah melepaskan lebih dari 12 ribu tabung gas air mata sejak gelombang protes dimulai enam bulan lalu.
 
Aksi protes di Hong Kong awalnya dipicu Rancangan Undang-Undang Ekstradisi, namun kini meluas menjadi perjuangan menegakkan demokrasi.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif