Karena selebaran tersebut, Korut bertekad akan menutup kantor penghubung dengan Korsel.
"Yang pasti, kami akan menarik kantor penghubung bersama Korea Utara dan Selatan," kata seorang pejabat unifikasi Korea Utara yang menangani hubungan kedua negara, dilansir dari Kantor Berita Korut KCNA, Sabtu 6 Juni 2020.
Mereka mengatakan penutupan kantor penghubung bisa diikuti dengan berbagai tindakan lain dengan tujuan utama menghukum Seoul.
"Kami akan mulai melakukan hal-hal yang dapat melukai Korsel," imbuh pejabat itu.
Peringatan ini adalah kali kedua dalam beberapa pekan terakhir. Kamis lalu, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, mengancam akan mengakhiri perjanjian militer kedua negara yang disepakati pada 2018.
Kedua ancaman ini mengacu pada ribuan ‘selebaran antiKorut’ yang baru-baru ini dilemparkan ke sisi Utara dari Zona Demiliterisasi (DMZ(. Banyak aktivis dalam beberapa minggu terakhir menggunakan balon untuk menerbangkan selebaran yang mengutuk Kim Jong-Un atas ambisi nuklirnya dan penindasan hak asasi manusia.
"Jika tindakan niat jahat seperti itu dilakukan di depan mata kita dibiarkan untuk mengambil jalannya sendiri dengan dalih 'kebebasan individu' dan 'kebebasan berekspresi', pemerintah Korea Selatan harus menghadapi fase terburuk segera," ujar Kim Yo-Jong.
Pernyataannya juga muncul setelah mantan diplomat Korea Utara dan pembelot Korea Utara lainnya memenangkan kursi parlemen dalam pemilihan umum Korea Selatan pada April.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News