Putin dan Macron desak Armenia-Azerbaijan gencatan senjata penuh. Foto: Anadolu
Putin dan Macron desak Armenia-Azerbaijan gencatan senjata penuh. Foto: Anadolu

Putin dan Macron Desak Azerbaijan-Armenia Genjatan Senjata Penuh

Internasional vladimir putin konflik armenia-azerbaijan Emmanuel Macron
Fajar Nugraha • 01 Oktober 2020 11:05
Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Prancis Emmanuel Macron membahas konflik Karabakh Atas melalui telepon. Para pemimpin menyerukan Azerbaijan dan Armenia untuk membentuk gencatan senjata penuh.
 
“Putin dan Macron menyatakan keprihatinan atas ketegangan yang meningkat di kawasan itu,” kata Kremlin dalam sebuah pernyataan tertulis, seperti dikutip Anadolu, Kamis 1 Oktober 2020.
 
Pernyataan itu menambahkan bahwa kedua pemimpin meminta pihak yang bertikai untuk menerapkan gencatan senjata segera dan penuh, mengurangi ketegangan dan menunjukkan pengekangan maksimum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Mereka juga menggarisbawahi bahwa konflik harus diselesaikan dengan cara diplomatik,” imbuh pernyataan.
 
Bentrokan perbatasan meletus Minggu setelah pasukan Armenia menargetkan pemukiman sipil Azerbaijan dan posisi militer.
 
Hubungan antara kedua negara bekas Soviet itu tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Karabakh Atas, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.
 
Sebanyak empat resolusi Dewan Keamanan PBB dan dua resolusi Majelis Umum PBB serta banyak organisasi internasional menuntut penarikan pasukan pendudukan. Uni Eropa, Rusia dan NATO, antara lain, telah menyerukan penghentian segera bentrokan di sepanjang perbatasan.
 
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan tentara Armenia tewas atau terluka dalam serangan balik yang diluncurkan untuk membebaskan wilayah Azerbaijan yang diduduki.
 
“Sekitar 200 tank dan kendaraan lapis baja, setidaknya 230 sistem artileri dan rudal, sekitar 30 sistem pertahanan udara, enam area komando dan observasi, lima depot amunisi, sekitar 50 senjata anti-tank, 110 mobil dan sistem rudal S-300 Rusia dihancurkan antara 27-30 September,” pernyataan pihak Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
 
“Sebanyak satu batalion Armenia yang bertugas di bawah Komando Angkatan Darat yang dikerahkan di desa Tonashen di distrik Tartar meninggalkan posisinya dan melarikan diri dengan kerugian besar,” kata kementerian itu.
 
Pihak kementerian juga mengatakan tentara Armenia menggunakan Tochka-U, rudal balistik taktis presisi tinggi Soviet, untuk melawan pasukan Azerbaijan.
 
"Karena ketidakcocokan dan kualitas buruk dari peralatan militer musuh, tiga rudal yang ditembakkan tidak meledak," sebut pernyataan itu.
 
Juga, pasukan Azerbaijan menyerang batalion Armenia lainnya yang bertugas di bawah Komando Angkatan Darat ke-1 yang ditempatkan di wilayah Aghdara. Sebelumnya, kementerian mengatakan Armenia menargetkan kota Tartar Azerbaijan dengan artileri pada Rabu pagi.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif