Anggota Taliban berbaur dengan warga Afghanistan./AFP
Anggota Taliban berbaur dengan warga Afghanistan./AFP

Pemimpin Taliban Hadir dalam Pertemuan 'Persatuan Nasional' di Kabul

Marcheilla Ariesta • 01 Juli 2022 19:43
Kabul: Pemimpin tertinggi Taliban, Haibatullah Akhunzada, bergabung dengan para pemimpin agama dari seluruh negeri di ibu kota, Afghanistan, Kabul pada Jumat, 1 Juli 2022. Ia mengikuti pertemuan dengan fokus pada persatuan nasional.
 
Kantor Berita Bakhtar mengkonfirmasi bahwa pemimpin Taliban itu menghadiri pertemuan lebih dari 3.000 peserta pria. Mereka mengatakan dia akan menyampaikan pidato.
 
Ketika gerakan Islamis itu meluncurkan pemerintahan sementaranya pada September tahun lalu. Akhunzada mempertahankan peran yang ia pegang sejak 2016 sebagai pemimpin tertinggi kelompok itu. Namun, ia jarang terlihat di muka publik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertemuan di Kabul dimulai pada Kamis, 30 Juni di bawah pengamanan ketat. Pada satu titik, tembakan berkelanjutan meletus di dekat tempat itu.
 
Juru bicara Taliban mengatakan, tembakan tersebut dilontarkan petugas keamanan di 'lokasi yang mencurigakan'. Menurut jubir tersebut, saat ini situasinya terkendali.
 
Setidaknya satu peserta telah menyerukan agar sekolah menengah putri dibuka tetapi tidak jelas seberapa luas dukungan untuk proposal itu.
 
Baca juga: Taliban dan AS Bahas Pencairan Dana Afghanistan
 
Wakil kepala Taliban dan penjabat menteri dalam negeri Sirajuddin Haqqani mengatakan, dunia menuntut pemerintah dan pendidikan yang inklusif, dan masalah tersebut membutuhkan waktu.
 
"Silaturahmi ini adalah tentang kepercayaan, interaksi, kita di sini untuk membuat masa depan kita sesuai dengan Islam dan untuk kepentingan nasional," katanya dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 1 Juni 2022.
 
Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan, mereka akan menghormati keputusan orang-orang dalam pertemuan itu. Akan tetapi keputusan akhir tentang pendidikan anak perempuan terserah pada pemimpin tertinggi.
 
Akhundzada telah menghabiskan sebagian besar kepemimpinannya dalam bayang-bayang. Ia membiarkan orang lain memimpin dalam negosiasi yang akhirnya membuat Amerika Serikat dan sekutu mereka meninggalkan Afghanistan Agustus tahun lalu, setelah 20 tahun menggiling perang kontra-pemberontakan.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif