Taliban berdiri di depan situs patung Buddha Shahmama yang dihancurkan pada 2001. Foto: AFP
Taliban berdiri di depan situs patung Buddha Shahmama yang dihancurkan pada 2001. Foto: AFP

Cegah Penjarahan, AS Larang Impor Benda Kultural dan Historis Afghanistan

Medcom • 23 Februari 2022 21:09
Washington: Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 22 Februari 2022 mengatakan, pihaknya memberlakukan larangan impor benda-benda bernilai kultural dan historis dari Afghanistan untuk mencegah kelompok teroris memperoleh keuntungan darinya. 
 
Namun, pakar menyebut larangan yang direncanakan berlaku hingga 2026 ini dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.
 
“Larangan tersebut bermaksud untuk mencegah masuknya barang-barang yang diperdagangkan secara gelap ke pasar seni AS, sehingga mengurangi penjarahan terhadap warisan budaya Afghanistan dan melawan pencarian keuntungan dari penjualan barang-barang kultural ini oleh teroris dan organisasi kriminal,” ucap pihak Kemenlu AS, dikutip dari Yahoo News, Rabu, 23 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peraturan itu meliputi larangan untuk membawa keramik, lukisan, kaca, gading, tekstil kuno, potongan ubin dan kayu, serta beberapa benda lainnya ke dalam AS.
 
Namun, pemberlakuan kebijakan ini dilakukan atas permintaan pemerintah Afghanistan yang didukung AS pada April 2021 lalu. Kini, kekuasaan pemerintah tersebut telah direbut oleh Taliban.
 
“Bisakah Kemenlu bertindak berdasarkan 'permintaan' dari pemerintah yang sudah tidak ada lagi?" tanya Peter Tompa, kolektor koin kuno melalui blognya, Cultural Property Observer.
 
Masalah logistik dapat muncul akibat pemberlakuan regulasi baru tersebut, khususnya bagi kolektor atau kurator yang telah melakukan pengiriman barang dan sedang dalam perjalanan ke AS, mengingat pusat-pusat lelang hendak menjual barang berharga pada Asia Week New York bulan depan. 
 
Menurut Tompa, sisi positif dari larangan impor benda-benda bersejarah adalah tetap diperbolehkannya impor tekstil modern.
 
“Jika demikian (impor tekstil modern dilarang), larangan impor seperti itu berpotensi menghancurkan mata pencaharian perempuan Afghanistan yang mencari nafkah dengan menenun tekstil untuk ekspor,” tulis Tompa.
 
Tahun lalu, UNESCO meminta Taliban untuk membantu mempertahankan warisan budaya Afghanistan.
 
Sebelum pengambilan kekuasaan oleh Taliban pada 2001, kelompok itu menghancurkan dua patung Buddha raksasa yang telah berusia beberapa abad dan diukir dari tebing di Bamiyan. Insiden ini memicu kecaman internasional.
 
Pihak berwenang dan mantan karyawan UNESCO juga mengatakan bahwa sekitar seribu artefak dicuri atau dihancurkan ketika Taliban mengambil alih kekuasaan pada 2021.
 
Anggota Taliban Saifurrahman Mohammadi menanggapi pernyataan itu dengan mengonfirmasi terjadinya penjarahan, namun menyebut hal itu terjadi sebelum mereka menduduki Afghanistan. Pihaknya juga mengklaim sedang berusaha mengembalikan benda-benda bersejarah tersebut. (Kaylina Ivani)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif