Sekelompok polisi bersiaga di salah satu sudut kota Hong Kong. (AFP)
Sekelompok polisi bersiaga di salah satu sudut kota Hong Kong. (AFP)

Hong Kong Tangkap Pemain Harmonika atas Penghasutan di Pemakaman Ratu

Medcom • 21 September 2022 13:55
Hong Kong: Seorang warga Hong Kong yang memainkan harmonika di depan kerumunan orang di luar gedung konsulat Inggris di hari pemakaman Ratu Elizabeth II ditangkap atas dugaan penghasutan, menurut keterangan polisi dan media lokal pada Selasa, 20 September 2022.
 
Sekelompok warga Hong Kong telah mengantre untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada mendiang Ratu Elizabeth II pada Senin kemarin. Beberapa dari mereka bahkan mengekspresikan nostalgia masa lalu kolonial kota itu pada saat Beijing berusaha untuk menyingkirkan perbedaan pendapat.
 
Massa berkumpul di luar gedung konsulat pada Senin malam, ketika Inggris mengadakan pemakaman kenegaraan Ratu Elizabeth II. Mereka menyaksikan siaran langsung pemakaman Ratu melalui telepon, serta meletakkan lilin dan karangan bunga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada satu waktu, menurut seorang reporter AFP di tempat kejadian, seorang pria tiba-tiba mulai memainkan lagu-lagu pada harmonikanya. Lagu yang dimainkan termasuk lagu kebangsaan Inggris dan Glory To Hong Kong, sebuah lagu populer selama protes besar yang terkadang disertai kekerasan tiga tahun lalu.
 
Para pelayat di luar konsulat pun mulai bertepuk tangan atas pertunjukan tersebut dan menyalakan lampu telepon mereka. Tidak sampai di situ, banyak orang kemudian meneriakkan yel-yel dan ikut menyanyikan Glory To Hong Kong.
 
Reporter lokal tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mulai memotret sang pemain harmonika, yang pada akhirnya berujung pada interogasi dan penahanan polisi.
 
"Pria berumur 43 tahun bermarga Pang itu ditahan di luar konsulat karena tindakan menghasutnya," ujar pihak kepolisian pada hari Selasa lalu, seperti yang dikutip dalam laman Channel News Asia, pada Rabu, 21 September 2022.
 
Sebuah sumber polisi lalu mengkonfirmasi kepada AFP bahwa pria yang ditangkap adalah sang pemain harmonika. Memang, setelah protes pada tahun 2019, Cina telah mengambil tindakan tegas atas perbedaan pendapat di Hong Kong dengan menggunakan undang-undang keamanan nasional dan tuduhan penghasutan.
 
Bahkan, undang-undang terakhir adalah undang-undang era kolonial yang telah jatuh ke dalam ketidakjelasan selama beberapa dekade sampai jaksa menghapusnya setelah banyaknya protes yang dilakukan.
 
Sementara itu, lagu Glory To Hong Kong sendiri berisi nyanyian atau seruan protes populer yang menyerukan kalimat ‘bebaskan Hong Kong, revolusi zaman kita’  yang telah dinyatakan oleh pengadilan sebagai ancaman bagi keamanan nasional.
 
Seorang pria berusia 60 tahunan bahkan didakwa awal tahun ini karena tampil tanpa lisensi setelah memainkan lagu itu dengan er-hu, alat musik dua senar di terminal bus. Tidak hanya itu saja, Oliver Ma, seorang pengamen keturunan Filipina-Hong Kong, ditangkap tiga kali pada 2020 dan 2021 karena menyanyikan lagu protes versi bahasa Inggris di jalan-jalan Hong Kong.
 
Hong Kong sendiri merupakan bagian dari jajahan Inggris selama lebih dari 150 tahun. Walau pusat keuangannya dikembalikan ke Tiongkok pada tahun 1997, masa lalu terukir di pemandangannya, dari nama jalan dan bahasa Inggris yang ada di mana-mana hingga sistem hukum adat yang legal.
 
Sementara itu, sepekan setelah kematian Ratu Elizabeth II, diketahui lebih dari 13 ribu orang menandatangani buku belasungkawa di konsulat Inggris di Hong Kong. (Gabriella Carissa Maharani Prahyta)
 
Baca:  Usai Dimakamkan, Warga Terus Penuhi Karangan Bunga Ratu Elizabeth II di Taman Green & Hyde London
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif