Pasukan penjaga perdamaian PBB/AFP
Pasukan penjaga perdamaian PBB/AFP

Tiongkok Jadi Tuan Rumah Latihan Pasukan Perdamaian PBB

Internasional Latihan Militer pbb Tiongkok Pasukan Perdamaian PBB
M Sholahadhin Azhar • 16 September 2021 03:19
Beijing: Tiongkok merampungkan latihan pasukan penjaga perdamaian multinasional pertama negara itu pada Rabu, 15 September 2021. Latihan menunjukkan sejauh mana kekuatan militer pasukan perdamaian di tempat pelatihan besar yang dikelilingi pegunungan.
 
Pengeluaran pertahanan Negeri Tirai Bambu adalah yang terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS), dan ketegangan telah meningkat secara dramatis antara kekuatan saingan karena Beijing telah menggelontorkan triliunan yuan ke dalam modernisasi militernya.
 
Tetapi negara itu telah berulang kali berusaha untuk menghilangkan ketakutan atas niat militernya, memproyeksikan dirinya sebagai tandingan damai untuk apa yang disebutnya ‘perilaku hegemonik dan intimidasi’ Washington.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Tiongkok Desak AS untuk Perbaiki Hubungan
 
Pasukan dari Thailand, Mongolia, dan Pakistan bergabung dengan angkatan bersenjata Tiongkok untuk latihan 10 hari yang dijuluki "Shared Destiny 2021" di pangkalan militer di daerah Queshan di Provinsi Henan.
 
Kolonel Senior Lu Jianxin mengatakan kepada wartawan yang diundang ke pangkalan itu bahwa latihan itu "menunjukkan dukungan Tiongkok untuk sistem multilateral yang berpusat pada PBB" ketika Beijing berusaha menampilkan diplomasi pertahanannya secara penuh.
 
Tentara berhelm biru bergantian memainkan berbagai skenario: warga sipil dan pengungsi terjebak dalam perkelahian, atau militan bersenjata menyerang pasukan PBB.
 
Puluhan kendaraan lapis baja, buldoser, helikopter, dan tank -- semuanya berlogo PBB -- dikerahkan untuk latihan tersebut.
 
Pada akhir Juli, Tiongkok adalah penyumbang terbesar kedelapan untuk pasukan penjaga perdamaian PBB, dengan 2.158 personel militer terlibat di seluruh dunia, menurut data PBB.
 
Pasukan Tiongkok terutama terlibat di Sudan Selatan, Mali, Lebanon, dan Republik Demokratik Kongo.
 
Selama perjalanannya ke Asia bulan lalu, Wakil Presiden AS Kamala Harris menggambarkan perselisihan Tiongkok dengan tetangganya di Laut China Selatan sebagai merusak "tatanan berbasis aturan dan mengancam kedaulatan negara".
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif