Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song. Foto: United Nations
Duta Besar Korea Utara untuk PBB, Kim Song. Foto: United Nations

Dubes Korut Ngomel Sebut AS Pertahankan Lingkaran Setan, Panas Terus!

Fajar Nugraha • 27 September 2022 18:07
New York: Berbicara di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Senin 26 September 2022, Duta Besar Kim Song mencatat bahwa ketegangan AS-Korea Utara “menuju ke fase yang jauh lebih berbahaya”. Dia merujuk pada pidato Presiden Amerika Serikat Joe Biden di PBB pada 21 September sebagai bukti.
 
Dubes Kim menegaskan bahwa Washington ‘mengganggu’ Pyongyang dengan mengkritik pelanggaran terus-menerus terhadap sanksi PBB. Dia juga menyalahkan Amerika Serikat karena mempertahankan "lingkaran setan ketegangan dan konfrontasi" dengan melakukan latihan militer di semenanjung itu.
 
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), yang terdiri dari sepuluh anggota bergilir dan lima anggota tetap pemegang hak veto –,Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Tiongkok, dan Rusia,– telah mengeluarkan delapan resolusi antara tahun 2006 dan 2017 baik sanksi atau penguatan pembatasan perdagangan di Korea Utara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Untuk membuatnya lebih jelas, kami tidak pernah mengakui 'resolusi' PBB yang memaksakan tekanan karena kami tidak mematuhi 'aturan' yang dibuat oleh Amerika Serikat secara sepihak," kata Kim, seperti dikutip AFP, Selasa 27 September 2022.
 
Kim berpendapat bahwa Korea Utara telah dipilih di antara beberapa negara yang memiliki senjata nuklir untuk dijatuhkan sanksi "paling brutal" karena badan internasional "berkomplot" dengan Amerika Serikat dalam memusuhi DPRK (nama resmi Korea Utara) yang independen.
 
Semua resolusi Dewan Keamanan yang memberikan sanksi kepada Korea Utara disahkan dengan dukungan dari Tiongkok dan Rusia, sekutu tradisional negara itu.
 
Kim juga menyebut latihan angkatan laut bersama yang sedang berlangsung oleh Amerika Serikat dan Korea Selatan di Laut Timur sebagai “tindakan yang sangat berbahaya untuk memicu situasi di Semenanjung Korea ke ambang perang.”
 
“Amerika Serikat harus memahami dengan jelas bahwa kebijakannya yang keji dan bermusuhan terhadap DPRK selama 30 tahun terakhir, baru saja membawa kenyataan hari ini. Mereka seharusnya bertanya dan menjawab sendiri dan merenungkan seberapa jauh hal itu akan memperpanjang situasi ini di masa depan,” tegasnya.
 
Pidato Kim, yang berlangsung selama 18 menit, tidak menyebutkan Korea Selatan. 
 
Korea Selatan dan Amerika Serikat memulai latihan angkatan laut gabungan pertama mereka dalam lima tahun pada hari Senin, sehari setelah Korea Utara melakukan peluncuran rudal balistik dan tepat sebelum pidato Kim di Majelis Umum.
 
“Latihan ini disiapkan untuk menunjukkan keinginan kuat dari aliansi Korea Selatan-AS untuk menanggapi provokasi Korea Utara,” kata Angkatan Laut Korea Selatan dalam siaran pers tentang latihan tersebut.
 
Sebuah kelompok penyerang angkatan laut AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Ronald Reagan tiba di Busan Jumat lalu untuk bergabung dengan latihan tersebut dan berangkat Senin ke Laut Timur untuk latihan bersama dengan kontingen angkatan laut Korea Selatan.
 
Kedatangan kapal induk AS mengikuti janji bersama oleh Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan Presiden AS Joe Biden selama pertemuan puncak di Seoul pada bulan Mei untuk menyebarkan aset strategis AS ke Korea Selatan.
 
Para pengamat percaya peluncuran rudal balistik jarak pendek Korea Utara pada Minggu pagi adalah tanggapan terhadap latihan angkatan laut bersama sekutu, dan khususnya kedatangan USS Ronald Reagan di Busan.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif