Mantan presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. (AFP)
Mantan presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa. (AFP)

Kabur 7 Pekan, Mantan Presiden Sri Lanka Kembali ke Negaranya

Marcheilla Ariesta • 03 September 2022 16:13
Kolombo: Mantan Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajakpaksa kembali ke negaranya usai kabur ke Maladewa dan Singapura. Ia kembali pada Jumat, 2 September 2022, setelah melarikan diri selama tujuh pekan.
 
Dikutip dari laman AFP, Sabtu, 3 September 2022, Rajapaksa kembali ke Sri Lanka pada Jumat kemarin dari Bangkok, Thailand, melalui Singapura. Menurut keterangan petugas bandara, kedatangan kembali Rajapaksa sempat disambut beberapa menteri serta politikus.
 
Hiasan bunga pun turut terlihat di bandara sebagai penyambutan kedatangan kembali Rajapaksa ke Sri Lanka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gotabaya Rajapaksa meninggalkan negaranya pada 14 Juli lalu. Kala itu, ia kabur di tengah kemarahan masyarakat imbas krisis ekonomi yang sangat parah.
 
Para pengkritik dan demonstran menuduh Rajapaksa beserta keluarganya gagal menangani perekonomian Sri Lanka selama menjadi presiden. Mismanajemen ini dinilai rakyat Sri Lanka sebagai penyebab terjadinya krisis ekonomi terparah sejak negara itu merdeka dari Inggris di tahun 1948.
 
Saat kemarahan warga Sri Lanka memuncak, Rajapaksa kabur ke Maladewa kemudian menuju Singapura. Ia diusir dari Singapura beberapa waktu setelah tinggal di sana, sehingga terpaksa bertolak ke Thailand pada 11 Agustus.
 
"Ia telah tinggal di hotel Thailand sebagai tahanan virtual dan ingin kembali," kata pejabat pertahanan Sri Lanka yang menolak disebutkan namanya.
 
"Kami diberitahu bahwa ia akan kembali sangat awal pada hari Sabtu," imbuhnya.
 
Rajapaksa melakukan perjalanan ke Thailand setelah Singapura menolak memperpanjang visa 28 hari. Meski diterima Thailand, Rajapaksa diminta otoritas keamanan Bangkok untuk tidak keluar dari hotel demi keselamatan.
 
"Mantan presiden itu memiliki visa 90 hari untuk tetap berada di Thailand, tetapi memilih untuk kembali bersama istri, seorang pengawal dan pembantu lainnya," lanjut pejabat tersebut.
 
Sri Lanka telah mengalami krisis pangan, bahan bakar dan obat-obatan selama berbulan-bulan, yang juga diperparah pemadaman listrik serta inflasi tak terkendali. Ini terjadi di saat Sri Lanka kehabisan mata uang asing untuk membiayai impor komoditas-komoditas penting.
 
Baca:  Tiba di Thailand, Mantan Presiden Sri Lanka Tidak Dapat Suaka
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif