Ketegangan terbaru antar Korsel dan Korut dipicu munculnya sejumlah pamflet anti-Pyongyang yang beredar di perbatasan kedua negara. Diduga kuat pamflet itu disebarkan sejumlah pembelot Korut.
Adik dari pemimpin Korut Kim Jong-un, Kim Yo-jong, telah menyampaikan retorika keras mengenai potensi dilancarkannya aksi militer ke Korsel.
"Janji menjaga perdamaian di Semenanjung Korea yang telah diucapkan Ketua Kim Jong-un di hadapan 80 juta warga kita tidak dapat ditarik lagi," kata Presiden Moon dalam pertemuan dengan sejumlah petinggi Korsel, merujuk pada pertemuan keduanya di tahun 2018.
"Korea Utara sebaiknya tidak memutus komunikasi atau meningkatkan ketegangan," sambungnya, dikutip dari laman The Straits Times, Senin 15 Juni 2020.
"Saya berharap masalah-masalah sulit (kedua negara) dapat diselesaikan melalui komunikasi dan kerja sama," ungkap Moon.
Senin ini merupakan peringatan 20 tahun berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi perdana antara Korsel dan Korut. Dalam KTT perdana antar-Korea, kedua negara sepakat meningkatkan dialog dan kerja sama.
Dalam pertemuan perdana Moon dan Kim pada 2018, keduanya menandatangani sebuah deklarasi mengenai "denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea" dan menghentikan "segala bentuk aksi bermusuhan."
Namun Korut memutus sambungan telepon hotline dengan Korsel pekan lalu. Korut juga bertekad akan memutus semua komunikasi dengan Korsel jika Seoul tidak menghentikan penyebaran pamflet anti-Pyongyang di perbatasan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News