Menteri Luar Negeri Pakistan Bilawal Bhutto Zardari. (KEVIN LAMARQUE POOL/AFP)
Menteri Luar Negeri Pakistan Bilawal Bhutto Zardari. (KEVIN LAMARQUE POOL/AFP)

Menlu Pakistan Ingatkan Konsekuensi Berbahaya Jika Taliban Terus 'Dicuekin'

Marcheilla Ariesta • 28 September 2022 16:15
Washington: Menteri Luar Negeri Pakistan Bilawal Bhutto Zardari menginginkan komunitas global berkomunikasi dan melibatkan diri dengan kelompok Taliban. Ia memperingatkan konsekuensi berbahaya jika penguasa Afghanistan itu kembali diisolasi seperti di masa lalu.
 
Sebelum merebut kekuasaan di Afghanistan pada 2021, Taliban pernah berkuasa di negara tersebut pada periode 1996-2001.
 
Zardari memperingatkan agar dunia mencegah terciptanya "pemerintahan paralel" di Afghanistan. Menurutnya, hal itu bisa saja terjadi setelah Amerika Serikat (AS) menempatkan aset beku Afghanistan ke dalam dana profesional di Swiss.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Taliban berulang kali mengecam langkah pembekuan aset, dan mendesak AS untuk segera mencairkannya untuk masyarakat Afghanistan.
 
"Kami telah belajar dari masa lalu bahwa ketika kami mencuci tangan dan membalikkan badan, kami ternyata menciptakan konsekuensi yang tak diinginkan dan lebih banyak masalah bagi kami sendiri," kata Bhutto Zardari, merujuk pada sikap 'cuek' kepada Taliban di masa lalu.
 
"Saya percaya bahwa kekhawatiran kami tentang keruntuhan ekonomi, eksodus pengungsi, ancaman rekrutmen baru untuk organisasi seperti ISIS-K dan lainnya, lebih besar daripada kekhawatiran yang mungkin ada tentang lembaga keuangan mereka," sambung Bhutto Zardari kepada AFP, Rabu, 28 September 2022.
 
Taliban kembali berkuasa di Afghanistan tahun lalu, setelah AS mengakhiri perang dua dekade di negara tersebut. Hubungan AS dengan Pakistan memburuk, di mana militer dan intelijennya dituduh Washington diam-diam mendukung kelompok militan alih-alih menyediakan akses logistik kepada pasukan AS.
 
Berbeda dengan beberapa pejabat Pakistan sebelumnya, Bhutto Zardari -- yang ibunya adalah mantan perdana menteri Benazir Bhutto -- tidak memberikan kata-kata hangat untuk Taliban.
 
Namun ia mengatakan bahwa para militan Taliban membutuhkan "ruang politik" atas kekhawatiran berbagai isu, terutama hak-hak perempuan. Sejak Taliban berkuasa kembali, hak perempuan di Afghanistan telah dibatasi dengan begitu tajam.
 
"Sepanjang sejarah, rezim teokratis dan otokratis cenderung enggan memikirkan masalah seputar hak  di saat mereka mengalami kesulitan ekonomi," kata Bhutto Zardari.
 
Baca: PBB Desak Taliban Buka Sekolah untuk Anak Perempuan
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif