NEWSTICKER
Warga yang mengantre membeli bahan makanan sebelum dilakukan lockdown di Selandia Baru. Foto: Newshub.
Warga yang mengantre membeli bahan makanan sebelum dilakukan lockdown di Selandia Baru. Foto: Newshub.

Jelang Lockdown, Warga Selandia Baru Berburu Bahan Makanan

Internasional Virus Korona selandia baru Coronavirus virus corona
Marcheilla Ariesta • 23 Maret 2020 17:37
Wellington: Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan akan melakukan penguncian total (lockdown) dalam 48 jam ke depan. Imbas dari pengumuman tersebut, masyarakat terlihat memenuhi stasiun bahan bakar dan supermarket.
 
Baca: PM Selandia Baru Minta Warga Bersiap HadapiLockdown.
 
Dalam video yang diambil Newshub, Senin 23 Maret 2020, fenomena panic buying ini membuat antrean warga mengular di supermarket dan stasiun bahan bakar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masyarakat ingin mengumpulkan baik itu bahan bakar ataupun bahan makanan," kata seorang warga di video tersebut.
 
Dalam video tersebut juga terlihat masyarakat memborong berbagai bahan makanan seperti sayuran, dan juga roti. Pengumuman tersebut juga membuat para pemilik kafe harus memulangkan stafnya lebih cepat.
 
Fenomena panic buying bukan hanya terjadi di Selandia Baru. Beberapa negara, seperti Swiss, Italia dan negara di Eropa lainnya, juga mengalami fenomena serupa sebelum di lockdown.
 
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern meningkatkan status siaga virus corona (covid-19) ke level tiga untuk 48 jam ke depan. Setelah itu, status siaga akan ditingkatkan ke level maksimal, atau dapat disebut sebagai penguncian total (lockdown) untuk seluruh wilayah Selandia Baru.
 
Di bawah lockdown, semua pertokoan non-esensial di Selandia Baru akan ditutup, begitu juga dengan sekolah serta universitas. Penutupan mulai diberlakukan Selasa besok.
 
"Kita semua harus bersiap, karena negara kita akan mengisolasi diri," ujar PM Ardern.
 
PM Ardern juga telah memerintahkan larangan penerbangan, bahkan untuk rute domestik sekalipun. Lockdown level maksimal di Selandia Baru ini akan berlaku setidaknya untuk empat pekan ke depan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif