Sampah di Hong Kong masih tetap dipungut. Foto: AFP
Sampah di Hong Kong masih tetap dipungut. Foto: AFP

Khawatir Akan Covid-19, Pekerja Sanitasi Hong Kong Masih Bertugas

Internasional Virus Korona hong kong Coronavirus virus corona
Arpan Rahman • 10 April 2020 19:07
Hong Kong: Sebagian besar penduduk dunia tinggal di rumah menunggu wabah virus korona berakhir. Kesibukan sehari-hari tidak berubah, meski sangat berbahaya, bagi ’T’, seorang pekerja sanitasi publik di Hong Kong. Ia memakai inisial karena tidak memiliki izin untuk berbicara dengan media.
 
Para keluarga yang patuh pada aturan pemerintah agar tinggal di rumah menghasilkan banyak sampah rumah tangga. Wadah sampah bertumpuk, masker bedah, tisu disinfektan, dan semua barang sekali pakai lainnya tertimbun di tengah krisis kesehatan. Berpotensi mengekspos pengangkut sampah seperti ’T’ ke limbah infeksi.
 
"Begitu banyak, itu menjengkelkan," kata buruh veteran berusia 60 tahun itu kepada TIME, Jumat, 10 April 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


’T’, yang telah mengumpulkan sampah dari kawasan perumahan yang sama selama beberapa dekade, memperkirakan beban kerjanya lebih dari dua kali lipat sejak wabah dimulai. Meskipun volume bertambah dan kemungkinan terpajan patogen mematikan, dia mengatakan gajinya tetap sama sekitar 9.000 dolar Hong Kong setara Rp18 juta per bulan, atau sedikit di atas upah minimum lokal.
 
"Tentu saja saya sangat khawatir ketika saya sedang bekerja," katanya, "Tapi ini pekerjaan saya, jadi saya harus melakukannya,"
 
Perempuan yang bekerja dua shif ini menuntut fisik sehari, enam hari per pekan. Karena banyak orang di Hong Kong menghabiskan bulan ketiga mereka bekerja dari rumah, dia bilang dia tidak bisa membayangkan kesibukan seperti itu.
 
Di Hong Kong, sebuah kota semi-otonom Tiongkok, penduduknya telah terkurung sejak akhir Januari, mempraktikkan kewaspadaan awal yang membantu kota itu mengatasi virus terburuk — setidaknya sejauh ini. Setelah infeksi mulai melonjak lagi pertengahan Maret, pemerintah menutup bar dan ruang karaoke dan menutup perbatasan tanpa batas waktu, berharap untuk mengekang kasus impor dan yang terhubung ke tempat hiburan. Anak-anak sekolah dan para profesional masih tertahan lama, para pemulung sampah seperti dirinya bersiap untuk sibuk berkepanjangan.
 
Namun sosok yang tidak bisa membaca ini, mengaku tidak menerima panduan tentang virus korona atau apakah dia perlu menangani sampah — termasuk barang yang berpotensi membawa coronavirus — berbeda selama pandemi. Sebuah studi di New England Journal of Medicine yang diterbitkan bulan lalu menemukan bahwa coronavirus dapat bertahan hidup pada plastik dan stainless steel hingga 72 jam, dan di atas kardus hingga 24 jam. Penelitian lain telah menemukan virus itu bertahan lebih lama.
 
Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong telah menerbitkan pamflet yang memberi nasihat kepada para profesional kesehatan, pengemudi angkutan umum, awak kabin, dan staf salon kecantikan bagaimana menghindari sakit di tempat kerja. Nasihat umum "tempat kerja" mendesak karyawan untuk "membersihkan sampah dan limbah dengan benar," tetapi tidak merinci apa yang mungkin terjadi.
 
Setidaknya dua orang di gedung tempat ’T’ bekerja menjalani karantina rumah wajib bulan lalu, menurut data pemerintah. Sebagai pekerja, dirinya tidak tahu dan mengatakan dia tidak tahu apakah penduduk di sana jatuh sakit.
 
"Tidak ada yang benar-benar bisa saya lakukan," katanya.
 
Dia menambahkan bahwa dia tidak berani meminta perusahaannya, Easy Living, untuk pelatihan. "Mereka akan mengancam saya, mengatakan jika Anda tidak melakukan pekerjaan itu, ada banyak orang yang akan melakukannya." Di tengah krisis ekonomi saat ini, ’T’ mengatakan dia terus bekerja karena orang-orang yang menghadapi PHK di industri restoran mengantre untuk mendapat pekerjaan pembersihan. Easy Living tidak membalas permintaan TIME agar berkomentar.
 
Di Hong Kong, Menteri untuk Makanan dan Kesehatan mengatakan kontraktor limbah wajib memberikan seragam dan pakaian pelindung khusus untuk staf mereka, termasuk mengganti masker wajah "setidaknya sekali pada awal shif kerja."
 
Tapi sosok yang kekurangan itu mengatakan, dia tidak memiliki peralatan pelindung yang cukup memadai, termasuk masker, sarung tangan atau seragam. Sejak wabah dimulai, majikannya telah menyediakan satu kotak berisi 50 masker setiap bulan, tetapi itu tidak cukup untuk menutupi dua shif terpisah yang ia kerjakan setiap hari. Di tengah kekurangan global masker bedah, dia harus mencari dan membayar sendiri.
 
Menurut badan amal Oxfam Hong Kong, 80 persen petugas kebersihan yang disurvei mengatakan mereka belum menerima pelatihan untuk mencegah penyebaran virus. Namun populasinya sangat rentan. Sebagian besar pasukan pengangkut sampah kota adalah penduduk lanjut usia berpenghasilan rendah, demografis yang sangat berisiko terhadap kasus covid-19 yang parah atau fatal.
 
Untuk ’T’, yang memiliki masalah kondisi kesehatan bawaan, semua pekerjaan baru-baru ini telah membawa korban fisik.
 
"Punggung bawahku sakit. Kakiku dan kakiku sakit. Baru-baru ini sangat buruk,” katanya.
 
Ketika rasa sakit menjadi tidak terkendali, dia mengasup penghilang rasa sakit yang dijual bebas. Kalau tidak, ia menggunakan salep topikal, dan mulai bekerja lagi di pagi hari berikutnya.
 
Berasal dari provinsi Guangdong di Tiongkok daratan, perempuan itu pindah ke Hong Kong lebih dari dua dekade lalu, bergabung dengan suaminya yang telah beremigrasi sebelumnya.
 
Dia tinggal bersama keluarganya di sebuah apartemen seluas 122 meter persegi tidak jauh dari lokasi tempat dia bekerja. Dia tidak khawatir terkena virus dengan keluarganya, yakin bahwa jika mereka tahu, mereka akan menyuruhnya berhenti.
 
"Jika kita tidak memiliki penghasilan ini, itu akan sangat sulit," katanya.
 
Dia bernaung dalam Serikat Pekerja Kebersihan, yang meminta pemerintah memastikan kompensasi untuk staf garis depan seperti pekerja sanitasi jika mereka terjangkit covid-19.
 
"Kami meminta untuk memperlakukan covid-19 sebagai cedera kerja," kata Tsz-yan Leung, pengurus serikat pekerja.
 
Sebagai sosok yang juga mengumpulkan limbah selama wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) mencabik Hong Kong pada 2003, pekerja itu mengatakan ia bahkan lebih takut sekarang. Tingkat infeksi global COVID-19 telah jauh melampaui epidemi sebelumnya, dia mencatat, bahkan jika itu menyebabkan hilangnya lebih sedikit nyawa di Hong Kong.
 
Namun, setelah pandemi dia berniat untuk terus melakukan pekerjaan yang sama, meskipun mengatakan dia tidak bisa membayangkan anak-anaknya melakukannya.
 
Pada saat yang sama, "Saya tidak tahu bagaimana melakukan pekerjaan lain," katanya. "Saya selalu melakukan ini. Saya sudah terbiasa dengan ini," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif