Sacheon: Jet tempur KF-21 Boramae dikembangkan bersama antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel). Jet ini pun sudah rampung dan seorang pilot Indonesia sempat mencoba jet tersebut.
Seorang pilot TNI Angkatan Udara, Kolonel Sugiyanto, pertama kali mencoba menerbangkan prototype nomor 4 KF-21 pada 16 Mei 2023 lalu, dari Pangkalan Udara Sacheon, Korsel.
Penerbangan tandem ini diawaki oleh pilot Korea Aerospace Industries (KAI) Jim Tae Bom yang duduk di kursi depan dan Kolonel Sugiyanto duduk di kursi belakang untuk menguji sistem komunikasi, navigasi dan identifikasi pesawat ini, dengan didampingi jet F-16 milik Angkatan Udara Korsel.
Sementara itu, saat Metrotvnews.com berkunjung ke KAI, jet tempur KF-21 Boramae “004” diterbangkan oleh pilot TNI, yaitu Letkol (Pnb) Ferrel "Venom" Rigonald. Uji terbang KF-21 Boramae dilakukan di lapangan udara (lanud) yang ada di pabrik KAI di Sacheon, Korsel.
Senior Manager & Chief KFX Joint Development Management Team Lee Sung-il Lee Sung-il mengatakan, selama di Korsel, pilot TNI juga bertindak sebagai chaser dari uji terbang KF-21 oleh para pilot uji KAI. Adapun, pesawat chaser para pilot uji Indonesia itu adalah T-50i milik RoKAF.
Menurutnya, saat ini ada 30 orang indonesia yang berpartisipasi dalam program ini.
“Ada dua pilot Indonesia yang sudah Anda lihat, salah satunya terbang di pesawat nomor 004. Satu orang sedang bekerja di tempat lain, dan ada 28 engineers PT DI (Dirgantara Indonesia) sedang bekerja di area produksi dan pengembangan,” jelasnya.
Proyek KFX/IFX ini sendiri telah dimulai sejak 2015 dan dijadwalkan bakal rampung pada 2026.
Proyek kerja sama pengembangan pesawat KF-21 Boramae ini juga mampu menciptakan lebih dari 27 ribu lapangan pekerjaan yang menguntungkan secara ekonomi.
"Dari sisi ekonomi, Indonesia dapat keuntungan. Pasalnya, ada 27 ribu pekerjaan yang tersedia dalam kesepakatan ini," ujar Lee Sung-il.
Menurutnya, Indonesia juga akan mendapatkan keuntungan besar yaitu USD10 miliar (setara Rp149 triliun). Tak hanya keuntungan itu saja, ada sejumlah pendapatan lain yang dihasilkan yaitu Efek Riak Teknologi sebesar USD1,9 miliar (sekitar Rp28,3 triliun).
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
Seorang pilot TNI Angkatan Udara, Kolonel Sugiyanto, pertama kali mencoba menerbangkan prototype nomor 4 KF-21 pada 16 Mei 2023 lalu, dari Pangkalan Udara Sacheon, Korsel.
Penerbangan tandem ini diawaki oleh pilot Korea Aerospace Industries (KAI) Jim Tae Bom yang duduk di kursi depan dan Kolonel Sugiyanto duduk di kursi belakang untuk menguji sistem komunikasi, navigasi dan identifikasi pesawat ini, dengan didampingi jet F-16 milik Angkatan Udara Korsel.
Sementara itu, saat Metrotvnews.com berkunjung ke KAI, jet tempur KF-21 Boramae “004” diterbangkan oleh pilot TNI, yaitu Letkol (Pnb) Ferrel "Venom" Rigonald. Uji terbang KF-21 Boramae dilakukan di lapangan udara (lanud) yang ada di pabrik KAI di Sacheon, Korsel.
Senior Manager & Chief KFX Joint Development Management Team Lee Sung-il Lee Sung-il mengatakan, selama di Korsel, pilot TNI juga bertindak sebagai chaser dari uji terbang KF-21 oleh para pilot uji KAI. Adapun, pesawat chaser para pilot uji Indonesia itu adalah T-50i milik RoKAF.
Menurutnya, saat ini ada 30 orang indonesia yang berpartisipasi dalam program ini.
“Ada dua pilot Indonesia yang sudah Anda lihat, salah satunya terbang di pesawat nomor 004. Satu orang sedang bekerja di tempat lain, dan ada 28 engineers PT DI (Dirgantara Indonesia) sedang bekerja di area produksi dan pengembangan,” jelasnya.
Proyek KFX/IFX ini sendiri telah dimulai sejak 2015 dan dijadwalkan bakal rampung pada 2026.
Proyek kerja sama pengembangan pesawat KF-21 Boramae ini juga mampu menciptakan lebih dari 27 ribu lapangan pekerjaan yang menguntungkan secara ekonomi.
"Dari sisi ekonomi, Indonesia dapat keuntungan. Pasalnya, ada 27 ribu pekerjaan yang tersedia dalam kesepakatan ini," ujar Lee Sung-il.
Menurutnya, Indonesia juga akan mendapatkan keuntungan besar yaitu USD10 miliar (setara Rp149 triliun). Tak hanya keuntungan itu saja, ada sejumlah pendapatan lain yang dihasilkan yaitu Efek Riak Teknologi sebesar USD1,9 miliar (sekitar Rp28,3 triliun).
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News