Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah. Foto: AFP
Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah. Foto: AFP

Pesan Raja untuk Anwar Ibrahim: Ikuti Filosofi Padi

Fajar Nugraha • 24 November 2022 15:21
Kuala Lumpur: Pengawas Rumah Tangga Kerajaan Istana Negara Malaysia Ahmad Fadil Shamsuddin mengatakan, penunjukan Anwar Ibrahim dari Pakatan Harapan sebagai perdana menteri dilakukan sesuai dengan Konstitusi Federal.
 
Penunjukan itu diselesaikan setelah Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah mempertimbangkan pendapat para penguasa Melayu. Pernyataan Istana menambahkan bahwa para penguasa Melayu menyatakan dukungan atas sikap yang diambil raja untuk membentuk pemerintahan yang stabil secepat mungkin.
 
“Seri Paduka mengingatkan kepada semua pihak bahwa yang menang tidak menang semua, dan yang kalah tidak kalah semua,” ujar Ahmad Fadil, menirukan pernyataan Raja, seperti dikutip The Star, Kamis 24 November 2022.
 
Baca: Anwar Ibrahim Dilantik sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia Sore Ini.

Dalam pernyataannya, raja meminta semua pejabat terpilih untuk bekerja sama demi masa depan negara.
 
Ia juga mengingatkan para pejabat tersebut untuk menunjukkan solidaritas, mengutamakan dan berkomitmen kuat untuk melayani Malaysia.
 
"Justru ulurkan tangan antara satu dengan yang lain bekerja sama dengan anggota parlemen lain demi masa depan negara tercinta,” tegasnya.
 
"Seri Paduka turut berpesan kepada perdana menteri dan pemerintahan baru yang akan dibentuk untuk mengikuti prinsip padi yang semakin berisi semakin menunduk. Tetap rendah hati," imbuhnya.
 
Penunjukan Anwar sebagai perdana menteri berikutnya mengakhiri perjalanan tiga dasawarsa dari pewaris menjadi tahanan yang dihukum karena sodomi, menjadi pemimpin oposisi terlama.
 
Politikus berusia 75 tahun itu berkali-kali tidak berhasil mengamankan posisi teratas meskipun berada dalam jarak yang sangat dekat selama bertahun-tahun: Dia adalah wakil perdana menteri pada 1990-an dan perdana menteri resmi pada 2018.
 
Di sela-sela itu, dia menghabiskan hampir satu dekade di penjara karena sodomi dan korupsi dalam apa yang dia katakan sebagai tuduhan bermotivasi politik yang bertujuan untuk mengakhiri karirnya.
 
Pada 19 November 2022, Malaysia melakukan pemilu nasional dan kubu Anwar Ibrahim memimpin perolehan suara parlemen hingga 83 kursi. Sementara koalisi Perikatan Nasional pimpinan Muhyiddin Yassin meraih 72 kursi. Keduanya memerlukan 112 kursi mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Sementara Barisan Nasional mendapatkan 30 kursi.
 
Jalan bagi Anwar terbuka setelah Barisan Nasional menolak membentuk pemerintahan baru dengan Perikatan Nasional. Kemudian Raja mengumumkan bahwa akan melantik Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri ke-10 Malaysia.
 
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif