Jakarta: Komunitas global mengecam keras penembakan yang dilakukan pasukan Israel terhadap Shireen Abu Akleh, seorang jurnalis perempuan berdarah Palestina-Amerika yang bekerja untuk kantor berita Al Jazeera, pada 11 Mei lalu. Shireen tewas terkena tembakan saat sedang meliput operasi militer Israel di kamp pengungsian Jenin di Tepi Barat.
Menurut Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun, penembakan tersebut "bukanlah yang pertama dan terakhir."
"Peristiwa-peristiwa serupa akan terjadi lagi di masa mendatang," ucap Dubes Zuhair dalam wawancara khusus dengan Medcom.id, belum lama ini.
"Shireen adalah seorang wartawan yang cemerlang. Ketika Shireen ditembak, tujuannya adalah untuk membungkam mulutnya. Shireen sudah datang ke rumah-rumah warga Palestina, meliput keseharian mereka dan bertanya mengenai penderitaan yang dirasakan selama ini," sambungnya.
Menurut Dubes Zuhair, Israel sudah sering menghina Shireen ketika ia masih hidup. Penghinaan itu tidak berhenti ketika sang jurnalis sudah meninggal dunia.
Penghinaan itu tercermin saat pasukan Israel menyerang prosesi pengangkatan jenazah Shireen. "Peristiwa itu memperlihatkan bahwa Israel bahkan tidak menghormati orang yang sudah meninggal," sebut Dubes Zuhair.
Saat ini, Otoritas Palestina (PA) telah melakukan kajian terhadap data-data kasus penembakan Shireen dan akan mengangkat isu ini ke hukum internasional. Ini harus dilakukan karena sudah begitu banyak orang yang gugur dalam perjuangan mempertahankan Palestina.
"Kita harus melanjutkan perjuangan, kita harus melanjutkan perlawanan terhadap penjajahan Israel," pungkas Dubes Zuhair.
Baca: Jaringan Media Al Jazeera akan Bawa Kasus Kematian Jurnalisnya ke ICC
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan