Demonstran mengacungkan gestur tiga jari dalam unjuk rasa menentang kudeta di Yangon, Myanmar pada 1 April 2021. (STR / AFP)
Demonstran mengacungkan gestur tiga jari dalam unjuk rasa menentang kudeta di Yangon, Myanmar pada 1 April 2021. (STR / AFP)

Korban Tewas Kekerasan Militer Myanmar Capai 550 Jiwa

Internasional konflik myanmar Myanmar politik myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar
Marcheilla Ariesta • 03 April 2021 13:49
Yangon: Kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan bahwa pasukan keamanan Myanmar telah membunuh 550 orang di negara itu selama demonstrasi antikudeta. Dari jumlah tersebut, 46 diantaranya adalah anak-anak.
 
Demonstrasi berlangsung sejak 1 Februari lalu, usai militer menggulingkan pemerintah terpilih yang dipimpin Aung San Suu Kyi. AAPP menuturkan ada tambahan dua korban tewas pada Jumat, 2 April kemarin.
 
Tak hanya melakukan kekerasan terhadap para pedemo, militer Myanmar juga memadamkan jaringan internet di negara itu demi membungkam suara oposisi di dunia maya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Junta telah memerintahkan penyedia internet mulai Jumat mendatang untuk memotong broadband nirkabel, yang berakibat pada matinya akses data seluler kami," kata salah satu anggota AAPP, dilansir dari Channel News Asia, Sabtu, 3 April 2021.
 
Pihak berwenang juga mengeluarkan surat perintah untuk 18 seniman, termasuk para influencer media sosial dan dua jurnalis terkait pemicu pemberontakan. Mereka semua dilaporkan menentang aturan militer.
 
Salah seorang artis, Paing Phyoe Thu, mengaku tidak takut atas surat perintah penangkapan.
 
"Apakah surat perintah telah dikeluarkan atau tidak, selama saya masih hidup, saya akan menentang kediktatoran militer yang menindas dan membunuh orang. Revolusi harus menang!" katanya di laman Facebook-nya.
 
Thu secara rutin menghadiri aksi unjuk rasa di kota Yangon. Bahkan suaminya yang merupakan sutradara film, Na Gyi, masuk dalam daftar pencarian pihak berwenang di bawah hukum sejak Februari lalu.
 
Junta juga telah melarang platform media sosial seperti Facebook. Mereka terus menggunakan media sosial untuk melacak kritik dan mempromosikan pesannya.
 
Baca:  DK PBB Kecam Keras Tindakan Junta Myanmar Terhadap Penentang Kudeta

 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif