Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra periode 2022-2025. (Medcom / Metro TV)
Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra periode 2022-2025. (Medcom / Metro TV)

Azyumardi Azra, Cendekiawan Muslim Peraih Gelar 'Sir' Pertama di Indonesia

Willy Haryono • 18 September 2022 16:40
Jakarta: Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra meninggal dunia di usia 67 tahun di Selangor, Malaysia pada Minggu, 18 September 2022. Mantan rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu tutup usia setelah mengalami masalah kelainan organ jantung.
 
Semasa hidupnya, Azyumardi Azra dikenal sebagai cendekiawan Muslim dengan segudang prestasi. Ia juga dikenal sebagai seorang akademisi mumpuni yang memiliki keahlian di banyak bidang, termasuk ilmu agama Islam, sosial dan juga sejarah.
 
Tidak hanya di dalam negeri, pria kelahiran Lubuk Alung, Padang Pariaman pada 4 Maret 1955 itu juga dikenal di kancah global. Kerajaan Inggris memberikan gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire kepada Azyumardi di tahun 2010. Gelar tersebut menjadikan Azyumardi sebagai orang Indonesia pertama yang berhak dipanggil "Sir" dan boleh keluar masuk Inggris tanpa visa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan keterangan di situs azraazyumardi.com, Profesor Azyumardi Azra adalah salah satu intelektual Muslim paling terkemuka di Asia Tenggara. Beliau adalah mantan Rektor dan Guru Besar Sejarah di Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta Indonesia.
 
Pada tahun 1982, Profesor Azyumardi lulus dari Fakultas Tarbiyah (Pendidikan Islam) di IAIN Jakarta (sekarang bernama UIN). Ia diangkat sebagai dosen di sana di tahun 1985 dan pada tahun berikutnya, dipilih untuk Beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi lanjutan di Universitas Columbia, New York City.
 
Azyumardi lulus dengan gelar MA dari Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah pada tahun 1988. Memenangkan Columbia President Fellowship, ia pindah ke Departemen Sejarah, Universitas Columbia di mana dia melakukan studi lebih lanjut; MA (1989), MPhil (1990) dan PhD (1992).
 
Selain itu, Profesor Azyumardi juga pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Pusat Studi Islam dan Masyarakat (Sensis) IAIN/UIN Jakarta, sebelum kemudian diangkat menjadi Wakil Rektor Bidang Akademik.
 
Profesor Azyumardi telah menjadi rekan tamu Studi Asia Tenggara di Pusat Studi Islam Oxford, Universitas Oxford; Profesor Tamu di Universitas Filipina, Diliman dan Universiti Malaya; Profesor Tamu Internasional Terhormat di Departemen Studi Timur Tengah, Universitas New York; anggota Dewan Pembina, Universitas Islam Internasional Islamabad (2004-9); pemimpin redaksi, Studia Islamika, Jurnal Studi Islam Indonesia (1993-sekarang); dan anggota dewan redaksi Jurnal Ushuluddin (University Malaya) dan Studi Quran (SOAS London).
 
Profesor Azyumardi telah mempresentasikan banyak makalah di konferensi internasional dan telah memberi kuliah di universitas seperti Columbia, Harvard, ANU, Kyoto, Leiden, dan banyak lainnya. Semasa kariernya di bidang akademisi, Azyumardi telah menerbitkan 18 buku.
 
Mei lalu, Azyumardi Azra terpilih menjadi Ketua Dewan Pers periode 2022-2025. Dalam kunjungan ke kantor Media Group pada Juni lalu, Azyumardi mengungkapkan ada dua isu utama yang menjadi tantangan insan pers dan lembaga medianya. Kedua isu tersebut adalah digitalisasi yang telah mengubah pola lama dan isu menjelang tahun politik 2024.
 
Menurut Azyumardi, media konvensional tengah terdesak di era disrupsi teknologi. Banyak media abal-abal memberi informasi yang tidak bertanggung jawab. Platform digital pun makin marak dan menjadi konsumsi publik tanpa ada regulasi mengaturnya.
 
Dia menilai media konvensional harus merespons cepat tantangan itu. Perlu terobosan dan inovasi untuk bisa bertahan, sekaligus berkembang menghadapi derasnya arus digitalisasi.
 
Baca:  Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra Meninggal Dunia, Ini Penyebabnya
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif