Sebagai presiden G20 tahun ini, Indonesia diharapkan untuk menjadi pemimpin dalam penyelesaian konflik tersebut.
"G20 dibuat untuk menghadapi krisis ekonomi global. Tapi kita tidak naif karena apa yang terjadi di dunia berdampak pada ekonomi," kata Co-Sherpa G20 Indonesia Dian Triansyah Djani, Kamis, 16 Juni 2022.
Dalam live Instagram 'Mengenal Presidensi G20 serta Langkah Diplomasi Indonesia sebagai Tuan Rumah', Trian mengungkapkan konflik negara yang bertikai - Rusia dan Ukraina - mulai mengganggu ekonomi dunia.
Baca juga: Satu-satunya Negara ASEAN di G20, Indonesia Jadi Bagian Solusi Dunia
"Kalau ditanya, apa dampaknya ke kita? Dampaknya pada komoditas pertanian yang naik harganya, juga energi," ucapnya.
Di sektor pertanian, harga gandum meningkat 60 persen. Ini disebabkan, baik Rusia maupun Ukraina adalah pengekspor gandum terbesar dunia.
Energi, kata Trian, juga berdampak pada 1,7 miliar masyarakat dunia. Karenanya, kepemimpinan Indonesia memastikan apa yang dapat ditawarkan G20 sebagai solusi atas masalah ini.
"Kita harus mendengarkan negara-negara (anggota) G20 dan di luar G20," ucap Trian.
Indonesia sebagai presidensi, akan mengumpulkan informasi, yang tidak hanya dari negara bertikai, tapi juga negara lain dan organisasi-organisasi PBB.
"Apa yang akan kita lakukan di G20? Kita akan bahas berbagai isu yang menjadi krisis. Tugas kita adalah mencari solusi dan melakukan apa yang kita nilai baik untuk solusi," terang Trian.
Tidak ada, sambung dia, yang akan ditinggalkan. Dan Indonesia, akan menjadi pemecah masalah.
Tantangan dunia saat ini akan dibahas dalam pertemuan tingkat menteri luar negeri pada 7-8 Juli mendatang. Dari pertemuan tersebut, diharapkan solusi yang baik bagi semua negara dikeluarkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News