Dalam jumpa pers usai rapat kabinet mingguan, ia juga mengatakan kesehatan masyarakat menjadi perhatian utama pemerintah dan tidak akan tergantikan oleh pariwisata atau pertumbuhan ekonomi.
"Kami telah mengambil sikap untuk tidak mendiskriminasi negara mana pun karena jika kami melihat tingkat infeksi di Tiongkok, kami juga tahu jumlah kematian di Amerika Serikat karena covid-19 tinggi, dan negara lain juga," kata Anwar, dilansir dari Channel News Asia, Rabu, 4 Januari 2023.
"Kami mengambil langkah-langkah ini untuk menyelamatkan warga kami. Siapa pun yang masuk harus diawasi dan tunduk pada ketentuan yang sama," sambungnya.
Baca juga: Tiongkok Ancam Negara yang Periksa Warganya Terkait Covid-19
Ada kekhawatiran di Malaysia atas perkiraan masuknya wisatawan Tiongkok mulai akhir pekan ini. Anwar mengatakan, ada 336 ribu pelancong dari Negeriu Tirai Bambu ke negaranya tahun lalu.
Sedangkan pada Desember lalu, ada 53 ribu pendatang dari Tiongkok ke Negeri Jiran.
"Tidak ada lonjakan infeksi yang dapat dikaitkan dengan negara mana pun. Ini tidak berarti kami mengendurkan aturan untuk negara mana pun, termasuk Tiongkok. Kami harus memantau sesuai dengan itu," ujarnya.
"Kami tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan hanya karena banyaknya laporan. Jika kita melihat situasi global secara keseluruhan, masalahnya lebih kompleks," sambung Anwar.
Kementerian Kesehatan Malaysia mengatakan pada 30 Desember bahwa semua pengunjung yang memasuki Malaysia harus menjalani pemeriksaan suhu untuk demam.
Mereka yang ditemukan mengalami demam, bergejala atau telah menyatakan sendiri gejalanya kemudian akan dikirim ke pusat karantina atau ke otoritas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Selain itu, mereka yang pernah ke Tiongkok dalam 14 hari terakhir setelah kedatangan mereka di negara tersebut harus menjalani tes RTK-Ag (tes antigen cepat).
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News