Maket jet tempur KF buatan bersama Korsel-Indonesia. Foto: AFP
Maket jet tempur KF buatan bersama Korsel-Indonesia. Foto: AFP

Pertahanan RI-Korsel Makin Kuat, Pengembangan Program Jet Tempur Berlanjut

Marcheilla Ariesta • 11 November 2022 17:00
Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) terus menjalin kerja sama mengembangkan program pesawat tempur KFX/IFX. Program ini didanai oleh kedua negara dengan system cost sharing.
 
Pesawat tempur ini dikembangkan berdasarkan Requirement dan Konsep Operasi TNI-AU dan ROKAF. Produksi pesawat tempur ini berada di Medium-class 4.5 Generation Multi Role Fighter Aircraft dengan kemampuan F16++.
 
Pesawat ini memiliki karakter semi-stealth (low observable), smart avionics with sensor fusion, beyond & within visual range weapon system, highly maneuverable dan interoperability concept.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Program ini sangat penting bagi Indonesia," ujar Mantan Sekjen Kemenhan era 2010-2013 Marsekal Madya TNI (Purn) Eris Herryanto, dalam workshop journalist yang digelar FPCI bertajuk '11 Years and Counting: Assessing Indonesia-Korea Defense Cooperation' secara virtual.
 
Menurutnya, jika Indonesia bisa membuat pesawat tempur sendiri lewat program tersebut, dapat membuka peluang besar ke depan. Hal ini tentu saja akan baik untuk perekonomian maupun pertahanan dalam negeri.
 
Eris menambahkan, jika pesawat tempur dibuat negara lain, Indonesia hanya bisa bergantung pada operational requirement dan menyesuaikannya dengan spesifikasi teknis pesawat yang dibeli.
 
Tak hanya itu, akan terjadi juga pembatasan terhadap konfigurasi, performance dan persenjataan sehingga terjadi degradasi teknologi.
 
“Bila membuatnya sendiri maka desain pesawat bisa memenuhi operational Requirement TNI AU. Kita juga bisa bebas menentukan konfigurasi sehingga menjamin kemampuan pengembangan teknologi pesawat tempur yang berkelanjutan,” ujar Eris.
 
Menurutnya, jika Indonesia selalu membeli pesawat tempur dari luar negeri akan menimbulkan ketergantungan terhadap negara pembuat.
 
Ia mengkhawatirkan jika Indonesia tidak akan mempunyai kemampuan teknologi pesawat tempur, karena tertinggal setelah dibanding negara lain. Dalam hal ini, Indonesia bisa saja tak memiliki kemampuan upgrade.
 
“Kalau negara pembuat pesawat tempur itu mengembargo kita, Indonesia akan kesulitan mendapat suku cadang lagi. Selain itu, kalau kita hanya bisa membeli, mahal karena tergantung pada OEM sehingga biaya operasi dan perawatan yang tinggi,” ungkapnya.
 
Dia mengatakan akan lebih baik Indonesia membuat sendiri melalui program bersama Korea Selatan ini sehingga bisa membuka peluang ekspor ke negara-negara lain yang membutuhkan.
 
“Kalau membuat sendiri tentu akan mengurangi ketergantungan pada luar negeri. Biaya operasional lebih murah dengan konsep perawatan yang sesuai serta biaya dapat ditekan. Kita juga bisa mempunyai kemampuan teknologi pesawat tempur untuk menjaga tetap up-to-date dan dapat dimanfaatkan untuk industri pertahanan lain dan nonpertahanan,” lanjutnya.
 
Dalam kesempatan yang sama, Eris mengungkapkan ada sejumlah alutsista yang dibeli Indonesia dari Korea Selatan. Di antaranya panser tarantula untuk TNI AD dan Submarine Changbogo Class TNI AL, serta pesawat latih tempur T50i Golden Eagle untuk TNI AU, pesawat latih ringan KT1-B untuk TNI AU dan kapal cepat rudal (KCR) KRI Mandau class.
 
“Untuk diketahui, Indonesia adalah pembeli pertama dalam pembelian alutsista ini yaitu kapal selam, pesawat latih tempur T50i, dan KT1-B,” seru Eris.
 
Kerja sama ini  juga ditandai pembelian alutsista yang dilakukan pemerintah Korea Selatan dari Indonesia berupa Pesawat CN-235 sebanyak 9 unit. Pesawat dari Indonesia itu digunakan oleh Republic of Korea Air Force (ROKAF) dan Korean Coast Guard (KCG) 05 Kapal Cepat Rudal (KCR).
 
“Kalau kita bandingkan tentunya tidak seimbang karena memang Indonesia belum unggul dalam memproduksi peralatan-peralatan alutsista,” tutur Eris.
 
Dalam workshop tersebut juga hadir Direktur Umum Senior Program KPX Group di Defense Aqcuisition Program Administration (DAPA) Korsel Brigjen (purn) Jung Kwang-sun.
 
Menurut Jung Kwang-sun,  ide awal kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam bidang pertahanan itu telah terjalin sejak 2010 lalu.
 
Menurutnya, banyak manfaat yang bisa didapat Indonesia melalui program tersebut.
 
“Menurut saya ini dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Melalui perpaduan teknologi dari kedua negara, Indonesia bisa mendapatkan sejumlah manfaat, terutama bisa memiliki jet tempur yang diinginkan TNI AU,” ujar Jung Kwang.
 
Jung Kwang memastikan Pemerintah Korea Selatan mendukung penuh Indonesia mengembangkan skill SDM untuk pembuatan pesawat tempur sendiri.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif