Menurut Tiongkok, kebijakan tersebut berjalan cukup efektif di Indonesia, meski negara ini merupakan memiliki total penduduk melampaui 260 juta jiwa.
"Menurut data yang dipublikasikan saat ini, dibanding negara lain yang juga besar populasinya, kasus positif dan meninggal (akibat covid-19) di Indonesia berada di tingkat yang relatif rendah," kata Qiu Xinli, penasihat politik Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta.
"Ini menunjukkan langkah-langkah pencegahan dan pengendalian (covid-19) di Indonesia memperlihatkan hasil nyata," sambungnya, dalam konferensi virtual bersama awak media, Rabu 24 Juni 2020.
Qiu meyakini Presiden Joko Widodo mampu memimpin membawa masyarakat Indonesia menuju kemenangan atas pandemi covid-19. Sebagai negara sahabat, Tiongkok akan terus menyalurkan bantuan dan juga berbagi pengalaman.
Dalam bidang covid-19, Tiongkok mengaku akan terus mendorong kerja sama penelitian dan pengembangan vaksin. Beijing juga akan memperkuat kerja sama dengan Indonesia di kancah global, termasuk di Organisasi Kesehatan Global (WHO).
Awal Juni ini, bantuan gelombang kedua dari Tiongkok telah tiba di Jakarta. Berdasarkan laporan awal, bantuan yang disalurkan Tiongkok melalui jalur pemerintah pusat, daerah, sektor swasta, dan lainnya ini telah mencapai total nilai USD10 juta (Rp141 miliar).
Khusus untuk bidang kesehatan, Qiu menjelaskan bahwa perusahaan biologis di Tiongkok dan Bio Farma di Indonesia sedang berkomunikasi seputar uji klinis fase III untuk vaksin covid-19.
"Pemerintah Tiongkok akan mendukung penuh kerja sama antar perusahaan kedua negara," sebut Qiu.
Sementara untuk bidang ekonomi dan perdagangan, Indonesia dan Tiongkok sedang melakukan konsultasi mengenai rencana pembentukan dan pengimplementasian Jalur Cepat atau Fast Lane. Jalur cepat ini bertujuan memperlancar kunjungan dua arah kedua negara, yang diharapkan dapat memulihkan berbagai proyek kerja sama yang sempat tertunda akibat pandemi covid-19.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News