Menlu Retno Marsudi di Sekretariat ASEAN, Senin 9 Januari 2023. Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id
Menlu Retno Marsudi di Sekretariat ASEAN, Senin 9 Januari 2023. Foto: Marcheilla Ariesta/Medcom.id

Menlu Retno: Tak Ada Opsi Lain, 5 Poin Konsensus Harus Dilaksanakan

Marcheilla Ariesta • 09 Januari 2023 22:50
Jakarta: Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam keketuaan di ASEAN tahun ini. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah situasi di Myanmar dan perang Ukraina-Rusia.
 
Khusus situasi di Myanmar, yang juga adalah anggota ASEAN, Indonesia terus mendorong implementasi lima poin konsensus (5PC) yang disetujui semua anggota ASEAN, termasuk junta Myanmar.
 
Sayangnya, junta masih belum mengimplementasi 5PC itu secara penuh. Akibatnya, mereka 'dikesampingkan' dari berbagai kegiatan ASEAN, termasuk dalam pertemuan para pemimpin negara ASEAN (KTT ASEAN).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karenanya, keketuaan Indonesia di ASEAN memikul harapan besar untuk dapat 'merangkul' Myanmar kembali. Terkait 5PC, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan, konsensus itu adalah keputusan para pemimpin.
 
"5 Poin Konsensus itu merupakan keputusan para pemimpin, dan tidak ada opsi lain bagi kita selain melaksanakannya," ucap Retno saat ditemui di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Senin, 9 Januari 2023.
 
Ia mengatakan, Sekretariat ASEAN memiliki bagian terkait dengan isu kemanusiaan di sana. "Ini peran Sekretaris Jenderal dan ASEAN Humanitarian Assistance (AHA) Center sangat besar sekali di dalam mengelola bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Myanmar," sambung dia.
 
Retno menegaskan, penguatan Sekretariat ASEAN merupakan salah satu prioritas di bawah kepemimpinan Indonesia.
 
"Selain itu, Sekretaris Jenderal memainkan peran yang sangat penting, termasuk dengan memberikan wawasan dan perspektif independen untuk membantu pengambilan keputusan para pemimpin menangani krisis Myanmar sebagai koordinator bantuan kemanusiaan ASEAN," ungkapnya.
 
Keketuaan Indonesia di ASEAN mengambil tema 'ASEAN Matters: Epicentrum of Growth'. Ada alasan dibalik pengambilan tema tersebut.
 
"Secara internal, kami masih bergulat dengan krisis Myanmar. Pelaksanaan lima butir konsensus masih stagnan, rivalitas eksternal yang semakin intensif di kawasan akan terus mengancam sentralitas ASEAN," ujar Retno. Ia menambahkan, resesi yang membayangi juga menimbulkan perlombaan besar bagi pertumbuhan ekonomi regional.
 
"Hal ini menjadi alasan utama mengapa Indonesia memilih tema keketuaan 'ASEAN Matter Epicentrum of Growth'," pungkasnya.
 

 

 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif