Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar, Prak Sokhonn./AFP
Utusan Khusus ASEAN untuk Myanmar, Prak Sokhonn./AFP

Utusan Khusus ASEAN: Superman Saja Tak Bisa Selesaikan Masalah Myanmar

Marcheilla Ariesta • 06 Agustus 2022 20:45
Phnom Penh: Kurangnya kepercayaan dan kemauan politik menjadi penghambat proses perdamaian Myanmar. Tentunya ini akan membuat ASEAN terus menghindari junta Myanmar, kecuali jika ada kemajuan nyata di negara tersebut.
 
Hal ini disampaikan Utusan Khusus ASEAN Prak Sokhonn yang merupakan menteri luar negeri Kamboja. Kamboja merupakan ketua ASEAN tahun ini.
 
Sokhonn mengatakan dirinya tidak akan menyerah dalam membantu menyelesaikan isu Myanmar. Namun untuk jangka pendek, ia akan mengurangi ekspektasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya hanya utusan khusus, saya bukan superman," kata Sokhonn, dilansir dari AFP, Sabtu, 6 Agustus 2022.
 
"Saya pikir bahkan Superman pun tidak bisa menyelesaikan masalah Myanmar," ujarnya.
 
Myanmar telah terperangkap dalam spiral kekerasan sejak militer merebut kekuasaan tahun lalu, mengakhiri satu dekade pemerintahan demokrasis. Kudeta militer memicu protes dan perlawanan dari rakyat terhadap junta.
 
Baca juga: Menlu ASEAN Sepakat Keluarkan Komunike Bersama AMM Terkait Myanmar
 
Sokhonn mengatakan, eksekusi yang dilakukan junta terhadap empat aktivis baru-baru ini merupakan pukulan besar bagi setiap harapan perdamaian. ASEAN sepakat bahwa tanpa kemajuan berarti di masa mendatang, posisinya atas isu Myanmar harus dipertimbangkan kembali.
 
"Saya belum melihat ada tanda-tanda kemauan dari semua pihak (di Myanmar) untuk menghentikan pertarungan. Satu-satunya cara yang saya lihat sekarang adalah terus berjuang. Kenapa? Karena kurangnya kepercayaan," katanya.
 
"Tanpa kepercayaan ini, perjuangan akan terus berlanjut dan proses politik tidak akan pernah berhenti, karena tidak ada yang akan datang jika mereka takut akan nyawanya," lanjut dia.
 
Junta Myanmar kini seperti terasing atas tindakan mereka sejak 2021. Bahkan, ASEAN melarang kehadiran perwakilan militer Myanmar dalam pertemuan-pertemuan internasional sampai mereka mulai menerapkan rencana perdamaian yang dirangkum dalam Lima Poin Konsensus ASEAN.
 
Lima poin konsensus ini menyerukan diakhirinya segera kekerasan, serta dialog antara militer dan gerakan anti-kudeta. "Masalah tidak dapat diselesaikan dengan satu pertemuan, dengan dua pertemuan, dengan pertemuan bertahun-tahun," kata Sokhonn.
 
"Negosiasi memakan waktu bertahun-tahun, seperti masalah di Myanmar. Setelah dua kunjungan utusan khusus, dua kunjungan saja, beberapa orang mulai kehilangan kesabaran dan meminta hasil," tambahnya.
 
Sementara itu, junta kembali menegaskan ASEAN tidak boleh ikut campur dalam urusannya, atau terlibat dengan 'teroris' yang menentang aturannya. Mereka mengatakan, komitmen terhadap proses perdamaian akan ditentukan dalam perkembangan di lapangan.
 
"ASEAN harus menghormati hak setiap negara anggota dan menahan diri dari campur tangan, subversi dan paksaan," katanya. Mereka menegaskan telah membuat kemajuan penting dalam upaya perdamaian.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif