Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. (Kemenlu RI)
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. (Kemenlu RI)

Menebar Perdamaian di Kancah Dunia

Media Indonesia • 16 Agustus 2022 13:46
BUKAN sebagai negara kaya maupun adidaya, bangsa Indonesia dihargai dunia karena keragaman, demokrasi, dan aktif dalam memperjuangkan perdamaian dunia. Semua negara selalu mengulurkan tangan ketika Indonesia membutuhkan bantuan.
 
Hal itu dipaparkan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi pada wawancara khusus dengan Ade Alawi, A Wahyu Kristianto, dan Cahya Mulyana dari Media Indonesia di Kantor Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu (10/8). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Anda menjalankan tugas diplomasi sehingga banyak menuai prestasi seperti yang telah terpatri di sepanjang tahun ini?

Jadi memang berbicara pendidikan untuk diplomat memang harus diubah. Dulu saya dididik satu tahun setelah kuliah lebih banyak mempelajari geopolitik dan perdamaian. Plus urusan yang berkaitan dengan keprotokolan.
 
Seiring berjalannya waktu, terdapat tuntutan pengembangan bagi seorang diplomat. Sekarang diplomat berbicara termasuk seorang presiden itu mengarah pada isu ekonomi. Jadi kita memastikan tugas diplomasi tetap relevan dengan kepentingan rakyat.

Indonesia selalu mengutamakan isu kemanusiaan dan perdamaian. Setelah Taliban berkuasa, apakah Indonesia akan terus menjalankan misi itu?

Sebelum Taliban masuk pun, Indonesia selalu terdepan membantu rakyat Afghanistan. Kita selalu di depan terkait isu kemanusiaan. Karena politik luar negeri kita perhatian utamanya pada rakyatnya. Kita bantu dengan pengembangan kapasitas dan lain-lain.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Setelah Taliban masuk, banyak rakyatnya yang merana, termasuk ancaman kekurangan gizi pada balita. Kita kembali ke sana dan termasuk negara pertama yang mengirimkan makanan dan susu bayi ke Afghanistan.

Bagaimana kelanjutan upaya Indonesia dalam membantu kaum perempuan Afghanistan yang ditekan Taliban?

Kita terus berusaha dan tidak menyerah. Jadi selain bantuan kemanusiaan, masalah kemanusiaan kita kedepankan, dua hal lagi yang menjadi prioritas kita saat berbicara Afghanistan dalam konteks sekarang yakni kerja sama antarulama.
 
Kita tidak putus asa. Ulama memegang peranan yang sangat penting di Afghanistan. Di kita dan negara muslim, ulama memiliki tempat khusus. Kita berbicara dengan ulama, apakah kita harus melanjutkan. Mereka bilang setuju. Pengalaman Indonesia, dengan mayoritas Islam berkehidupan kebangsaan yang dibingkai keragaman.
 
Dalam konteks itu, dulu trilateral meeting Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia. Dengan Taliban sekarang kita berpartner dengan Qatar, karena Qatar memegang peranan penting. Kita pernah melakukan pertemuan ulama di Qatar, kita mengirim perwakilan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dan yang paling menarik kita kirim ulama perempuan juga, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Amani Lubis.
 
Beliau di sana selain membicarakan pesan ulama juga peran perempuan di tengah masyarakat muslim. Ibu Amani menjadi contoh ulama dan perempuan yang berpartisipasi di sektor sosial dan pendidikan dari level bawah hingga paling tinggi.

Yang membuat publik bangga kepada Anda dan Kementerian Luar Negeri yakni mampu membuka jalan untuk kunjungan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia. Kedua negara itu tengah berkonflik, tapi lawatan Presiden Jokowi pada 29 dan 30 Juni itu berjalan mulus. Bagaimana ceritanya?

Intinya tidak mudah mempersiapkan kunjungan tersebut karena Ukraina dalam situasi perang. Kita harus mempersiapkan dengan presisi dan bekerja dalam diam.
 
Jadi saya selalu lapor ke Presiden Jokowi dan kalau diperhatikan hingga Presiden berkunjung ke Kyiv dan Moskow, bisa dilihat Twitter saya itu dipenuhi dengan sejumlah perjalanan dan pertemuan dengan banyak tokoh. Itu dilakukan untuk mempersiapkannya.
 
Saya jelaskan kepada mereka, presiden saya ingin melakukan kunjungan ke sana. Rusia dan Ukraina menanggapi dengan baik dan memberikan jaminan keamanan. Saya juga menebali dengan membuka komunikasi dengan pihak lain.
 
Karena ini kunjungan presiden, yang tidak boleh keliru sedikit pun terkhusus mengenai isu keamanan. Saya juga bertemu dengan Sekjen NATO di Brussels, mantan PM Norwegia saat saya menjadi dubes di Norwegia, jadi sudah mengenal satu sama lain. Dan beliau memberikan dukungan keamanan.
 
Setelah itu saya pulang dan lapor ke Presiden Jokowi. Saya bilang, oke Bapak kita sudah persiapan ini dan ini. Insya Allah semuanya aman. Namun, saya sarankan ke Presiden Jokowi, ini harus diperkuat lagi dengan Panglima dan Kabin. Kemudian saya, Panglima, dan Kabin bertemu Bapak Presiden Jokowi, kita rancang semuanya. Kemudian Bapak (Jokowi) berangkat.
 
Kita berangkat ke Kyiv dari Polandia dengan menggunakan kereta kurang lebih 12 jam.
 
Ada dua misi sebenarnya yang dijalankan Presiden Jokowi. Pertama mencoba membuka jalan perdamaian. Tapi memang kondisinya sangat sulit, tetapi Presiden Jokowi mengatakan, oke memang sangat sulit, tapi saya tetap akan memperjuangkannya sesuai amanah konstitusi saya untuk menebarkan semangat perdamaian.
 
Kedua, konflik ini menimbulkan krisis pangan dan energi. Ada dua tugas penting, karena perang membuat ekspor biji-bijian terhenti. Ukraina merupakan penghasil gandum, Rusia produsen pupuk untuk dunia. Saya tidak mulai dari nol, saya mendukung yang telah dilakukan Sekjen PBB. Di bawah permukaan heboh, saya kontak Sekjen PBB, negosiator PBB untuk Ukraina dan Rusia dan Turki. Kita heboh berkomunikasi saat itu.
 
Presiden Jokowi mengatakan kita dukung yang telah dilakukan Sekjen PBB. PBB membuat Global Crisis Response Group (GCRG) dan memilih beberapa kepala negara sebagai championnya, yang salah satunya Presiden Jokowi. Kita terus berbicara.
 
Jadi setelah Presiden Jokowi selesai, kita lanjutkan komunikasi dengan PBB dan Turki, dan Juni lalu ada black sea initiative, ekspor dari Ukraina melalui laut dimulai.
 
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan ekspor gandum lewat darat hanya bisa 1,5 juta ton per bulan. Sementara menggunakan jalur laut jumlahnya dapat lima kali lebih banyak. Sementara Ukraina memiliki 22 juta ton dan 55 juta ton yang akan dipanen.
 
Rusia juga memiliki gandum dan pupuk tidak masuk sanksi AS, tetapi sulit keluar akibat eksportir takut tidak mendapatkan jaminan. Kemudian Presiden Jokowi saat menghadiri G-7 meminta kepada para pemimpin grup itu untuk menjelaskan ke pengusaha kalau bertransaksi mengenai dua komoditas itu tidak mendapatkan sanksi.

November akan berlangsung KTT G-20, forum ini diharapkan dapat menghadirkan solusi bagi dunia termasuk penyelesaian konflik di Ukraina. Bagaimana Indonesia selaku Presidensi G-20 meramunya?

G-20 bukan forum politik, forum keuangan dan melebar ke ekonomi karena ada aspek development-nya. Tetapi tidak dapat dimungkiri, diskusi di G-20 yang menjadI forum ekonomi ini ikut diwarnai oleh isu geopolitik.
 
Kita berbicara kepada semua apakah G-20 masih relevan menjadi katalis bagi pemulihan ekonomi dunia. Mereka semua mengamini.
 
Kemudian pertemuan menlu dan gubernur bank sentral G-20 di Bali menjadi kesempatan pertama semua pihak yang sedang berkonfl ik mau datang secara in persona, duduk dalam satu ruangan di tengah situasi domestik mereka menghadapi tantangan besar.
 
Misalnya Menlu Inggris Elizabeth Truss, dia datang di saat PM Inggris Boris Johnson mundur, Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi datang saat masa kampanye dan mantan PM negaranya, Shinzo Abe, ditembak.
 
Baca:  Kunjungan Jokowi ke Rusia-Ukraina Pengingat Ancaman Krisis Global
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif