Mantan PM Najib Razak dianggap memiliki kekuasaan tertinggi di 1MDB. Foto: AFP
Mantan PM Najib Razak dianggap memiliki kekuasaan tertinggi di 1MDB. Foto: AFP

Najib Razak Dianggap Punya ‘Kekuataan Tertinggi’ di 1MDB

Internasional kasus korupsi najib razak 1mdb
Medcom • 12 November 2021 20:07
Kuala Lumpur: Mantan Kepala Keuangan (CFO) 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Azmi Tahir mengatakan, mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak memegang “kekuatan tertinggi” di 1MDB. Kekuataan menyangkut pengambilan keputusan perusahaan. 
 
Pernyataan ini disampaikan saat mantan CFO berusia 48 tahun tersebut bersaksi di Pengadilan Tinggi Malaysia pada Kamis, 11 November 2021. 
 
Dilansir dari Straits Times, Jumat, 12 November 2021, Tahir menjelaskan, kekuasaan Razak sejalan dengan Pasal 117 dari Memorandum & Anggaran Dasar (M&A) perusahaan, dimana setiap keputusan penting harus di bawah instruksi atau persetujuan perdana menteri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pernyataan saksi setebal 127 halaman di Pengadilan Tinggi Malaysia, Tahir menerangkan: “Razak adalah orang yang memiliki kekuatan tertinggi dalam setiap keputusan, terutama yang melibatkan investasi, keputusan keuangan, dan kepentingan nasional.”
 
Kesaksian Tahir disebut menggemakan mantan rekannya, mantan Direktur Utama (CEO) 1MDB, Shahrol Azral Ibrahim Halmi, 51, dan Mohd Hazem Abd Rahman, 49. 
 
Tahir menambahkan, selama menjabat sebagai CFO, terdapat “langkah rahasia” yang direncanakan oleh pengusaha buronan, Low Taek Jho (Jho Low), dengan instruksi dan “berkah” dari mantan perdana menteri berusia 68 tahun tersebut.
 
“Orang-orang terpilih, dipilih dan diatur di manajemen tertinggi 1MDB dan dewan direksi untuk memastikan bahwa gerakan dan instruksi pintu belakang ini dilakukan,” kata Tahir.
 
Tahir merupakan saksi ke-12 penuntut dalam persidangan yang melibatkan RM2,28 miliar atau lebih dari Rp10 triliun dari dana kekayaan negara. 
 
Saksi mengatakan, ia adalah salah satu dari mereka yang “bekerja di silo”. Sedangkan sisanya adalah CFO yang saat itu menjabat, Mohd Hazem, Direktur Investasi (CIO) Shahrol & Vincent Koh, penasihat umum Jasmine Loo, dan Wakil CFO, Terence Geh.
 
“Low memberitahu saya bahwa semua tugas adalah berdasarkan kebutuhan dan untuk diketahui,” ujar Tahir.
 
Tahir menyatakan, instruksi tersebut hanya diketahui oleh beberapa orang di dalam sistem berlapis. Sistem tersebut dikoordinasi oleh Low dan mantan sekretaris pribadi utama Razak, Azlin Alias.
 
“Instruksi yang saya terima dari mereka (Low dan Alias) berupa mandat dari Razak sebagai perdana menteri. Oleh karena itu, petugas dalam sistem berlapis harus mengikuti instruksi Low karena instruksinya adalah instruksi Razak, sesuai dengan Pasal 117,” tambah Tahir.
 
Sebelumnya, Tahir diketahui menjabat sebagai bagian keuangan perusahaan di Deloitte. Pada 1 Juni 2012, ia mulai bekerja di 1MDB sebagai CFO, di mana ia mendapat gaji bulanan antara RM40.000 hingga RM45.000 atau senilai lebih dari Rp153 juta.
 
“Saya tidak lagi bekerja di perusahaan manapun dan saya wiraswasta,” ucap Tahir.
 
Tahir pun mengatakan kepada pengadilan, ia diperkenalkan dengan Low, yang merupakan “penasihat 1MDB Razak”, dalam sebuah pertemuan yang diatur oleh Alias.
 
Pertemuan tersebut berlangsung di kantor Low di Kuala Lumpur City Centre (KLCC) pada Juni 2012, setelah Tahir bergabung dengan 1MDB. Alias disebut tidak hadir dalam pertemuan.
 
“Saya diberitahu dalam pertemuan ini bahwa semua instruksi dari Alias dan Low adalah mandat dari Razak dan saya hanya perlu mengikutinya,” pungkas Tahir.
 
“Setelah pertemuan, saya mengkonfirmasi dengan Alias apakah yang dikatakan Low itu benar dan berlaku. Alias mengkonfirmasi apa yang dikatakan Low kepada saya. Sejak saat itu, saya akan menjalankan instruksi dari Alias dan Low karena saya yakin instruksi itu adalah amanat dari Razak,” tutur Tahir.
 
Selama kesaksian, pengacara Razak, Wan Aizuddin Wan Mohammed berdiri untuk mengajukan keberatan atas pernyataan Tahir, dengan beberapa kali mengatakan, kesaksian saksi adalah “desas-desus”.
 
Bagaimanapun, Hakim Collin Lawrence Sequerah mengatakan, pengadilan akan menangani keberatan selama tahap pengajuan lisan persidangan.
 
Razak disebut menghadapi empat dakwaan menyalahgunakan posisinya untuk mendapatkan gratifikasi senilai RM2,28 miliar atau lebih dari Rp10 triliun dalam dana 1MDB. Selain itu, terdapat 21 dakwaan pencucian uang, dimana melibatkan dana yang sama. (Nadia Ayu Soraya)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif