Joel Estorial, pelaku penembakan terhadap jurnalis Filipina, Percival Mabasa. Foto: AFP
Joel Estorial, pelaku penembakan terhadap jurnalis Filipina, Percival Mabasa. Foto: AFP

Dirjen Lapas Filipina Perintahkan Pembunuhan Wartawan

Fajar Nugraha • 07 November 2022 16:41
Manila: Polisi Filipina Senin 7 November 2022 melontarkan tuduhan kepada kepala penjara negara itu memerintahkan pembunuhan seorang jurnalis radio terkemuka. Kematian jurnalis itu jelas memicu kekhawatiran internasional.
 
Tokoh radio Percival Mabasa, 63, yang menggunakan nama 'Percy Lapid' dalam programnya, ditembak mati di pinggiran kota Manila pada 3 Oktober saat ia berkendara ke studionya.
 
Polisi mengajukan pengaduan pembunuhan terhadap Direktur Jenderal Biro Pemasyarakatan Gerald Bantag, yang saat ini diskors dari tugas, dan wakilnya petugas keamanan Ricardo Zulueta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tersangka pria bersenjata, Joel Escorial, menyerah kepada pihak berwenang bulan lalu karena takut akan keselamatannya setelah polisi menyiarkan wajahnya dari rekaman keamanan.
 
"Dia (Bantag) mungkin akan menjadi pejabat tertinggi negeri ini yang pernah didakwa dengan kasus seberat ini," kata Menteri Kehakiman Crispin Remulla, seperti dikutip AFP.
 
Bantag diduga memerintahkan pembunuhan Mabasa setelah "terus diekspos oleh yang terakhir dari masalah terhadap yang pertama di acaranya," Eugene Javier dari Biro Investigasi Nasional mengatakan kepada wartawan, membaca dari sebuah pernyataan.
 
Bantag dan Zulueta juga dituduh memerintahkan pembunuhan Cristito Villamor Palana, salah satu narapidana yang diduga memberikan perintah pembunuhan kepada Escorial.
Escorial telah mengidentifikasi Palana ke polisi.
 
Palana dicekik dengan kantong plastik oleh anggota gengnya sendiri, kata Javier.
 
Pengaduan pidana juga telah diajukan terhadap 10 narapidana. Jaksa di Departemen Kehakiman akan memutuskan apakah ada cukup bukti untuk mengajukan tuntutan di pengadilan.

Kritikus yang blak-blakan

Mabasa adalah kritikus vokal terhadap mantan presiden Rodrigo Duterte serta kebijakan dan pembantu penggantinya Ferdinand Marcos Jr.
 
Dia juga kritis terhadap "tanda merah" -,menuduh seseorang sebagai simpatisan komunis,- serta operasi perjudian online dan informasi yang salah seputar darurat militer.
 
Dia adalah jurnalis kedua yang terbunuh sejak Marcos menjabat pada 30 Juni.
 
Sementara Filipina menduduki peringkat sebagai salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, pembunuhan seperti itu jarang terjadi di Manila.
 
Javier mengatakan penyelidikan pembunuhan itu telah mengungkap "pelembagaan organisasi kriminal di dalam pemerintahan".
 
"Ini akan menjadi penyebab banyak reformasi di pemerintahan dan penguatan mekanisme saat ini untuk memastikan bahwa hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," pungkasnya, menggambarkannya sebagai ‘perang melawan impunitas’.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif