Tentara Myanmar mengerahkan panser untuk hadapi para pedemo penentang kudeta. Foto: AFP
Tentara Myanmar mengerahkan panser untuk hadapi para pedemo penentang kudeta. Foto: AFP

Pedemo Online Myanmar Serang Kerabat dan Pendukung Militer

Internasional konflik myanmar politik myanmar aung san suu kyi Min Aung Hlaing
Marcheilla Ariesta • 01 April 2021 20:58
Bangkok: Beberapa orang yang disebut 'pejuang ponsel pintar' dalam gerakan antikudeta di Myanmar melancarkan balas dendam secara daring terhadap militer. Mereka memburu orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan militer sebagai bentuk hukuman sosial.
 
Kemarahan akibat kekerasan dari militer terhadap para pedemo antikudeta disalurkan lewat protes daring tersebut. Hampir 170 orang yang berkerabat dengan militer terdaftar di situs web, sebagai pengkhianat.
 
Situs dan halaman Facebook, yang memiliki 67.000 pengikut sebelum ditutup, memerinci informasi pribadi orang-orang ini. Informasi seperti tempat kerja, universitas, dan tautan ke akun media sosial mereka dibuka kepada publik. Sebuah praktik serangan siber yang dikenal sebagai doxxing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Militer Myanmar Ajukan Gencatan Senjata, Tetapi Bukan dengan Pedemo
 
"Kami di sini untuk menghukum keluarga militer atau orang-orang yang mendukung militer. Jangan pernah memaafkan, jangan pernah lupa!" kata kelompok tersebut di laman Facebook mereka, dilansir dari Malay Mail, Kamis, 1 April 2021.
 
Baca: Militer Myanmar Ajukan Gencatan Senjata, Tetapi Bukan dengan Pedemo
 
Facebook menutup halaman tersebut karena melanggar standar komunitas. Namun, halaman lain dengan jumlah pengikut yang lebih kecil masih ada.
 
"Kami akan terus memantau situasi di lapangan di Myanmar," kata seorang juru bicara Facebook.
 
Konsekuensi dari hukuman sosial telah mengakibatkan beberapa korban terpaksa menutup bisnis online mereka. Seorang mahasiswa Myanmar di Jepang juga dilaporkan berhenti kuliah imbas masalah ini. 
 
Kondisi di Myanmar semakin kacau usai kudeta militer yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Laporan menunjukkan lebih dari 500 orang tewas akibat kekerasan yang dilakukan junta kepada pedemo.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif