Ribuan demonstran kembali turun ke jalanan kota Yangon, Myanmar pada Senin, 22 Februari 2021. (Ye Aung THU/AFP)
Ribuan demonstran kembali turun ke jalanan kota Yangon, Myanmar pada Senin, 22 Februari 2021. (Ye Aung THU/AFP)

Ribuan Pedemo Tetap Beraksi Meski Diancam Militer Myanmar

Internasional konflik myanmar myanmar politik myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar
Marcheilla Ariesta • 22 Februari 2021 16:16
Yangon: Puluhan ribu pengunjuk rasa anti-kudeta tetap berkumpul di seantero Myanmar pada hari ini, Selasa, 22 Februari 2021. Padahal, junta militer telah mengancam akan menggunakan kekuatan mematikan untuk menghancurkan tindakan demonstran yang dinilai sebagai aksi 'anarki.'
 
Peringatan disampaikan militer Myanmar usai kematian tiga demonstran di tangan aparat keamanan.
 
Baca:  Demo Menentang Kudeta Myanmar Berlanjut usai Kematian 2 Demonstran

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Protes besar-besaran terjadi setelah militer Myanmar melancarkan kudeta pada 1 Februari lalu, yang menggulingkan pemerintahan sipil di bawah pemimpin de facto Aung San Suu Kyi.
 
Unjuk rasa masif telah mencekik banyak operasi pemerintah, kegiatan bisnis, dan perbankan. Kemarin malam, militer Myanmar memberikan sinyal bahwa kesabaran mereka sudah hampir habis.
 
"Para pengunjuk rasa sekarang cenderung menghasut orang-orang, terutama remaja dan pemuda yang emosional. Aksi mereka dapat berujung pada hilangnya nyawa," kata sebuah pernyataan di stasiun televisi milik militer Myanmar, MRTV.
 
Pernyataan tersebut dianggap sebagai peringatan sekaligus ancaman agar demonstran berhenti berunjuk rasa. Namun ribuan orang tidak memedulikan peringatan dan tetap turun ke jalan.
 
Salah satu kerumunan massa terbesar terpantau di Yangon, kota dan pusat komersial terbesar di Myanmar. "Kami keluar hari ini untuk bergabung dalam protes, untuk berjuang sampai kami menang," kata Kyaw Kyaw, seorang mahasiswa berusia 23 tahun.
 
"Kami khawatir tentang ancaman aksi kekerasan, tetapi kami akan terus maju. Kami sangat marah," imbuhnya, dilansir dari AFP.
 
Sementara itu di Yangon, kehadiran pasukan keamanan lebih banyak dari biasanya. Truk polisi dan militer juga berbaris di jalan dan area tempat berdirinya sejumlah kedutaan besar.
 
"Militer secara tidak adil mengambil alih kekuasaan dari pemerintah sipil terpilih," kata pengunjuk rasa yang tidak mau disebutkan namanya.
 
"Kami akan berjuang sampai kami mendapatkan kebebasan, demokrasi, dan keadilan," tegasnya.

 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif