Menlu Retno Marsudi peringatkan dunia masih dalam kondisi pandemi covid-19. Foto: FPCI
Menlu Retno Marsudi peringatkan dunia masih dalam kondisi pandemi covid-19. Foto: FPCI

GTH2021

Vaksin Tidak Merata Distribusinya, Menlu Retno: Kita Masih dalam Pandemi

Marcheilla Ariesta • 20 November 2021 18:45
Jakarta: Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, saat ini kondisi dunia berubah dibandingkan tahun lalu. Di tengah pandemi covid-19, dunia sudah memiliki senjata untuk melawannya.
 
Sebanyak 24 vaksin covid-19 sudah diizinkan penggunaannya, dan sekitar 7,6 miliar suntikan sudah terdaftar secara global. Karena 'senjata' ini, ekonomi global memperlihatkan tanda kehidupan dan diprediksi naik 5,9 persen pada 2021 dan 4,9 persen di 2022.
 
Selain itu, perbatasan sudah dibuka dan perjalanan internasional dapat dilakukan kembali.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi, mari kita perjelas, kita tetap berada di dalam situasi pandemi," ucap Retno dalam pidato kunci di Global Town Hall (GTH) 2021, Sabtu, 20 November 2021.
 
Retno menyampaikan, tercatat hampir 260 juta kasus secara global. Dari angka tersebut, 5,2 juta orang meninggal karena covid-19.
 
"Angka ini empat hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," lanjut dia.
 
Retno mengatakan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan kasus mingguan global dengan lonjakan terparah di benua Amerika dan Eropa.
 
"Sejumlah faktor berkontribusi untuk memperpanjang pandemi, seperti langkah-langkah kesehatan masyarakat yang tidak konsisten, dan pembukaan kembali perbatasan yang terburu-buru," seru Retno.
 
Namun, lanjut dia, yang paling utama karena akses yang tidak adil ke setiap 'senjata' yang ada. Sejak awal, katanya, Indonesia sudah menyerukan distribusi vaksin yang adil dan merata.
 
Bahkan, Retno menjadi ketua bersama COVAX Advance Market Commitment Engagement Grup (AMC-EG) yang dibentuk untuk memfasilitasi akses vaksin untuk 92 negara.
 
Ketidaksetaraan vaksin terlihat karena lebih dari 80 persen vaksin dikirim ke negara-negara 20 ekonomi terbesar dunia (G20). Sedangkan negara berpenghasilan rendah hanya menerima 0,4 persen saja.
 
Sementara itu, setidaknya 100 juta dosis bisa tidak digunakan dan sudah kedaluwarsa di negara G7 pada 2021. Retno memperkirakan jumlah dosis yang terbuang meningkat menjadi 800 juta dosis pada pertengahan 2022.
 
"Jika semua vaksin didistribusikan secara adil, kita akan bisa mencapai target 40 persen di setiap negara sekarang," ungkapnya.
 
Ia mengatakan, banyak negara yang mengandalkan COVAX, namun Menlu peringatkan bahwa COVAX tidak memproduksi vaksin. COVAX gagal memberikan 2 miliar dosis tahun ini, karena hingga saat ini baru sekitar 507 juta dosis yang terkirim.
 
Ketidaksetaraan akses vaksin menjadi perhatian khusus WHO. Mereka mengimbau negara berpenghasilan tinggi untuk menunda booster kepada seluruh masyarakat negara itu, namun tidak diindahkan.
 
Sementara itu, GTH 2021 merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Kegiatan ini membahas berbagai isu, mulai dari vaksin, pemulihan ekonomi, hingga Afghanistan.
 
Tahun ini, GTH 2021 mengangkat tema 'Managing Competition, Conflict, and Cooperation in a Pandemic World'. Diharapkan kegiatan ini dapat membantu pemerintah untuk membuat kebijakan.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif